Tampilkan postingan dengan label Ilmuan Muslim. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ilmuan Muslim. Tampilkan semua postingan

23/11/2012

Biografi Ibnu Thufail (Filosofus Hayy Bin Yaqzhan)

Jangan lupa membaca artikel tentang bisnis di > Informasi bisnis terbaik.


Ibnu Thufail (Abubacer)
Ibnu Thufail (sekitar 1105–1185) nama lengkap; Abu Bakar Muhammad bin Abdul Malik bin Muhammad bin Tufail al-Qaisi al-Andalusi أبو بكر محمد بن عبد الملك بن محمد بن طفيل القيسي الأندلسي (nama Latin Abubacer) ialah filsuf, dokter, dan pejabat pengadilan Arab Muslim dari Al-Andalus.

Lahir di Guadix dekat Granada, ia dididik oleh Ibnu Bajjah (Avempace). Ia menjabat sekretaris untuk penguasa Granada, dan kemudian sebagai vizier dan dokter untuk Abu Yaqub Yusuf, penguasa Spanyol Islam (Al-Andalus) di bawah pemerintahan Almohad, pada yang mana ia menganjurkan Ibnu Rushd sebagai penggantinya sendiri saat ia beristirahat pada 1182. Ia meninggal di Maroko.

Di zamannya nama baiknya sebagai pemikir & pelajar telah membuatnya dipuji sebagai Maecenas. Ibnu Tufail juga merupakan pengarang Hayy ibn Yaqthan حي بن يقظان (Hidup, Putra Kesadaran) roman filsafat, dan kisah alegori lelaki yang hidup sendiri di sebuah pulau dan dan yang tanpa hubungan dengan manusia lainnya menemukan kebenaran dengan pemikiran yang masuk akal, dan kemudian keterkejutannya pada kontak dengan masyarakat manusia untuk dogmatisme, dan penyakit lainnya.

Karier Ibnu Thufail

Karier Ibnu Thufail bermula sebagai dokter praktik di Granada. Lewat ketenarannya sebagai dokter, ia diangkat menjadi sekretaris Gubernur di provinsi tersebut. Pada tahun 1154 M (549 H) Ibnu Thufail menjadi sekretaris pribadi Gubernur Cueta (Arab: Sabtah) dan Tangier (Arab : Thanjah / Latin : Tanger) Abu Yaqub Yusuf al-Mansur, Khalifah kedua dari Dinasti Muwahhidun (558 H / 1163 M – 580 H / 1184 M) selanjutnya menjadi dokter pemerintah dan sekaligus menjadi qadhi.

Pada masa khalifah Abu Yaquf Yusuf, Ibnu Thufail mempunyai pengaruh yang besar dalam pemerintahan. Pada pihak lain, khalifah sendiri mencintai ilmu pengetahuan dan secara khusus adalah peminat filsafat serta memberi kebebasan berfilsafat. Sikapnya itu menjadikan pemerintahannya sebagai pemuka pemikiran filosofis dan membuat Spanyol, seperti dikatakan R. Briffault sebagai “tempat kelahiran kembali negeri Eropa”.

Kemudian ia mengundurkan diri dari jabatannya sebagai dokter pemerintah pada tahun 578 H / 1182 M, dikarenakan usianya yang sudah uzur. Kedudukannya itu digantikan oleh Ibnu Rusd atas permintaan dari Ibnu Thufail. Tapi dia tetap mendapatkan penghargaan dari Abu Yaqub dan setelah dia meninggal pada tahun 581 H / 1185 M) di Marakesh (Maroko) dan dimakamkan disana, Al-Mansur sendiri hadir dalam upacara pemakamannya

Karya-karya Ibnu Thufai

Ibnu Thufail adalah seorang dokter, filsuf, ahli matematika dan penyair yang sangat terkenal dari Muwaddin Spanyol, tapi sayangnya hanya sedikit sekali karya-karyanya yag dikenal orang.

Miguel Casiri (1122 H/1710 M-1205 H/1790 M) menyebutkan dua karya yang masih ada, yaitu: Risalah hay Ibn Yaqzhan dan Asrar al-Hikmah al- Mashriqiyyah, yang disebu terakhir ini berbentuk naskah. Kata pengantar dari Asror menyebutkan bahwa itu hanya merupakan satu bagian dari risalah Hayy Ibn Yaqzhan fi Asror al-Hikmah al-Mashriqiyyah.

Kata Ibnu Thufail ini merupakan suatu kreasi yang unik dari pemikiran filsafatnya. Sebelumnya, judul ini telah diberikan oleh Ibn Sina kepada salah satu karya esoteriknya, tapi Ibnu Thufail berhasil menjadikan kisah ini menjadi kisah roman filosofis yang unik. Ketajaman filosofisnya yang menandai kebenaran kisah ini dan ia menjadikannya salah satu kisah yang paling asli dan paling indah pada abad pertengahan. Hal ini terbukti dengan banyaknya buku ini diterjemahkan kedalam bahasa ibrani, Latin, Inggris, Belanda, Prancis, Spanyol. Bahkan pada zaman modern pun minat terhadap karya Ibnu Thufail ini tetap ada.

Pemikiran Ibnu Thufail

1. Metafisika (ketuhanan)
Tuhan menurut Ibnu Thufail adalah pemberi wujud pada semua makhluk. Untuk membuktikan adanya Tuhan Ibnu Thufail mengemukakan tiga argument, yaitu:

a) Argumen Gerak (al-Harokat).
Gerak ala mini menjadi bukti tentang adanya Allah, baik bagi orang yang menyakini alam baharu (hadist), berarti ala mini sebelumnya tidak ada, kemudian menjai ada. Oleh karena itu berarti ada penciptanya. Pencipta inilah yang menggerakkan alam dari tidak ada menjadi ada yang disebut dengan Allah. Tapi bagi orang yang menyakini alam kadim, alam ini tidak didahului oleh tidak ada dan selalu ada, gerak ala mini kadim, tidak berawal dan tidak berakhir, karena zaman tidak mendahuluinya (tidak didahului oleh diam) adanya gerak ini menunjukkan secara pasti adanya penggerak.

b) Argumen Materi (al-Madat)
Argument ini, menurut Ibnu Thufail dapat membuktikan adanya Allah, baik yang menyakini alam kadim maupun hadistnya. Dalam hal ini Ibnu Thufail mengemukakan pokok pikirannya yang terkait antara satu dengan yang lainnya, yaitu:
1) Segala yang ada ini tersusun dari materi dan bentuk;
2) Setiap materi membutuhkan bentuk;
3) Bentuk tidak mungkin bereksistensi penggerak;
4) Segala yang ada (maujud) untuk berseksistensi membutuhkan pencipta.

Dengan argumen diatas dapat dibuktikan adanya Allah sebagai pencipta alam ini, Ia Maha Kuasa, bebas memilih serta tidak berawal dan tidak berakhir.
c) Argumen al-Gayyat dan al-Mayyat.
Pada argumen ini pernah dikemukakan oleh al-kindi dan Ibn Sina, bahwa segala yang ada di ala mini mempunyai tujuan tertentu dan merupakan inayah dari Allah.
2. Fisika
Menurut Ibnu Thufail ala mini kadim dan juga baharu. Alam kadim karena Allah menciptakannya sejak azali, tanpa didahului oleh zaman (taqaddum zamany), dilihat dari esensinya alam adalah baharu karena terwujudnya alam (ma’lul) bergantung pada zat Allah (illat).

Pandangan menurut Ibnu Thufail ini merupakan kompromi antara pendapat Aristoteles yang menyatakan alam kadim dengan ajaran kaum ortodok Islam yang meyatakan alam baharu.
3. Jiwa
Menurut Ibnu Thufail jiwa manusia adalah makhluk yang tertinggi martabanya. Menusia terdiri dari dua unsur , yakni jasad dan ruh (al-Madad wa al-Ruh). Badan tersusun dari unsur-unsur, sedangkan jiwa tidak tersusun. Jiwa bukan jisim dan juga bukan sesuatu daya yang ada didalam jiwa. Setelah badan hancur (mengalami kematian) jiwa lepas dari badan, dan selanjutnya jiwa yang pernah mengenal Allah selama dalam jasad akan hidup dan kekal.

Menurut Ibnu Thufail jiwa terdiri dari tiga tingkat, yakni dari yang rendah jiwa tumbuhan (al-Nafs al-Hayawaniyyah), kemudian tingkat jiwa yang martabatnya lebih tinggi dari keduanya, yaitu jiwa manusia (al-Nafs al- natiqat).
4. Epistimologi
Dalam epistimologi, Ibnu Thufail menjelaskan bahwa ma’rifat itu dimulai dari panca indra. Dengan pengamatan dan pengalaman dapat diperoleh pengetahuan indrawi, hal-hal yang bersifat metafisis dapat diketahui dengan akal dan intuisi. Menurutnya ma’rifat di lakukan dengan dua cara, yaitu:
a) Pemikiran/renungan akal, seperti yang dilakukan para
filsuf muslim;
b) Kasyf ruhani (tasawwuf), seperti yang biasa dilakukan oleh kamu sufi. Ma’rifat kasyf ruhani ini dapat diperoleh dengan latihan-latihan ruhani dengan penuh kesungguhan.

5. Rekonsiliasi (Tawfiq) antara filsafat dan agama.
Melalui roman filsafat hayy ibn Yaqzhan, Ibnu Thufail menekankan bahwa antara filsafat dan agama tidak bertentangan, dengan kata lain, akal tidak bertentangan dengan wahyu, tetapi juga dapat diketahui dengan akal. Dalam hal ini, Ibnu Thufail berusaha dengan penuh kesungguhan untuk merekonsiliasikan antara filsafat dan agama. Hayy dalam roman filsafatnya, ia lambangkan sebagai akal yang dapat berkomunikasi dengan Allah. Sedangkan absal, ia lambangkan sebagai wahyu (agama) dalam bentuk esoteris, yang membawa hakikat (kebenaran). Sementara salman, ia lambangkan sebagai wahyu (agama) dalam bentuk eksoteris. Kebenaran yang dikehendaki agama, karena sumbernya sama, yakni Allah SWT.

Sekilas Tentang Hayy Bin Haqzhan

Hayy ibn Yaqzhan dikenal dengan nama "Philosophus Autodidactus" di Barat. Pada bagian pendahuluan, Ibnu Thufail mempersembahkan beberapa pandangan dari para pendahulunya, Al Farabi, Ibnu Sina, Al Ghazali, dan Ibnu Bajjah. Al Farabi dikritik keras tentang pandangannya yang tidak konsisten tentang alam akhirat. Tidak ada kritik tentang Ibnu Sina, sebaliknya diceritakan bahwa kebijaksanaan oriental Ibnu Sina akan diuraikan sepanjang sisa pekerjaannya. Pandangan Ibnu Bajjah dikatakan belum lengkap, menyebutkan tentang kondisi spekulatif tertinggi tetapi bukan kondisi diatasnya, yaitu "menyaksikan" atau pengalaman mistik. Sementara pengalaman mistik al Ghazali tidak diragukan lagi, tak satupun dari karya-karyanya tentang pengetahuan mistik telah dicapai oleh Ibnu Thufail. Pendahuluan tersebut dimaksudkan untuk memberitahukan niat ibnu thufail yaitu elaborasi kebijaksanaan oriental Ibnu Sina dan menunjukkan bagaimana karyanya berbeda dari para pendahulunya.

Inti dari pemikiran Ibnu Thufail termuat dalam karyanya ini. Antara akal dan wahyu tidaklah memiliki kontradiksi yang begitu besar. Bahkan keduanya dapat memiliki satu visi dan tujuan yang sama tentang kebenaran. Dan juga akan memiliki titik keindahan bila keduanya dapat digabungkan. Bahwa jalan yang ditunjukkan oleh agama dapat diperoleh dengan intelektualitas manusia yang cenderung berhasrat untuk terus bertanya dan mencoba menjawab apa yang ada dan juga oleh wahyu yang dapat dijadikan petunjuk tetap menuju satu kebenaran. Keduanya sama-sama dapat menuju kebenaran, demikian pesan yang ingin disampaikan oleh Ibnu Thufail dalam karyanya Hayy Ibn Yaqdzan.

Dalam karyanya ini, Ibnu Thufail seperti merasa jengah dengan pertikaian 2 proyektor besar dalam proses pencarian kebenaran, filsafat, dan wahyu. Pertikaian yang diledakkan oleh al Ghazali dengan Tahafut al-Falasifah nya menentang Ibnu Sina dan al Farabi yang fokus pada ajaran Aristotelian mereka. Pertikaian yang pada dasarnya ada pada ketidaksetujuan al Ghazali yang fokus pada 3 ajaran para filosof terutama Ibnu Sina dan al Farabi tentang keabadian alam, penolakan bangkitnya jasmani setelah mati, dan pengetahuan Tuhan yang universal. Ketiga hal ini yang benar-benar dianggap oleh al Ghazali sebagai penyalahgunaan rasio untuk menyelewengkan agama.

Pertikaian ini coba didamaikan Ibnu Thufail dengan mengatakan bahwa antara keduanya tidaklah jauh berbeda dalam memandang kebenaran yang sama, eksternal, dan internal. Pemahaman agama melalui wahyu dan pemahaman agama melalui nalar melihat kebenaran dari sisi yang berbeda dengan hakikat yang sama.

Kisah Hayy ibn Yaqzhan

Cerita Hayy ibn Yaqzhan terjadi di sebuah pulau di daerah khatulistiwa yang tidak dihuni oleh manusia. Disana Hayy ditemukan sendirian sebagai seorang bayi. Beberapa filsuf berpendapat bahwa dia lahir secara spontan ketika terjadi perbauran antar elemen telah mencapai sebuah keseimbangan yang tepat, membuat perbauran ini mungkin untuk menerima sebuah jiwa dari dunia ke-ilahian. Kalangan tradisional percaya bahwa dia adalah anak dari seorang wanita yang memilih untuk menyembunyian pernikahannya dengan kerabatnya, Yaqzan, dari saudara laki-lakinya yang memerintah sebuah pulau dan tidak menemukan pasangan yang tepat untuk saudara perempuannya. Setelah menyusui Hayy, dia meletakkannya ke dalam sebuah kotak dan membuangnya ke dalam air yang membawanya ke pulau yang tak berpenghuni.
Seekor kijang betina yang baru saja kehilangan anaknya mendengar tangisan Hayy. Dia menyusui Hayy, menjaganya dari hal-hal yang berbahaya dan merawatnya sampai dia mati ketika Hayy berusia 7 tahun. Hayy belajar meniru hewan-hewan dalam berbicara dan dia menutup tubuhnya dengan dedaunan setelah menyadari bahwa tubuh hewan-hewan tersebut tertutup dengan rambut atau bulu. Kematian si kijang mengubah kehidupan Hayy dari sebuah ketergantungan menjadi sebuah eksplorasi dan penemuan.
Dalam usaha untuk mengetahui alasan kematian kijang, sebuah alasan yang tak bisa dijelaskan hanya dengan mengamati penampilan fisiknya saja. Dia membelah si kijang dengan batu yang tajam dan buluh kering. Dia menyadari bahwa setiap organ tubuh mempunyai fungsi yang wajar dan terlihat di sebelah kiri lubang jantungnya kosong. Dia menyimpulkan bahwa sumber kehidupan pasti berada di lubang tersebut dan pasti telah ditinggalkannya. Dia merenungkan bagian penting tersebut yang berhubungan dengan tubuh, sumbernya, tempat dimana bagian penting tersebut telah pergi, cara kepergiannya, dan lain sebagainya. Dia menyadari bahwa bukan tubuhnya tapi entitas vital dari kijang dan sumber tindakannya. Dengan kesadaran tersebut dia kehilangan ketertarikan terhadap tubuh kijang yang kemudian ia lihat hanya sebagai sebuah alat. Selama dia belum dapat menguraikan entitas vital ini, dia menyelidiki bahwa bentuk semua kijang sama dengan bentuk ibunya. Dari sini dia berkesimpulan bahwa semua kijang telah diatur oleh sesuatu yang sama dengan entitas vital yang mengatur kematian ibunya.

Setelah penemuannya tentang kehidupan, dia menemukan api. Dia menyadari bahwa berkebalikan dengan obyek-obyek alami lainnya yang bergerak kebawah, api bergerak keatas. Ini mengindikasikan bahwa hakikat dari api berbeda dengan obyek-obyek alami lain. Dia terus menyelidiki bagian lain dari alam: organ binatang, penyusunannya, jumlah, ukuran dan posisi serta kesamaan kualitas yang dimiliki binatang-binatang, tumbuh-tumbuhan dan benda-benda tak bergerak yang sangat tepat setiap bagiannya. Lewat penalarannya, dia memahami konsep materi dan bentuk, sebab dan akibat, kesatuan dan keragaman, serta konsep-konsep umum berkaitan dengan bumi dan langit. Dia berkesimpulan bahwa alam semesta adalah satu meskipun itu memiliki beberapa obyek, dia pindah ke pertimbangan apakah alam semesta diciptakan atau abadi. Lewat penalaran yang sangat rumit, dia menemukan bahwa baik gagasan penciptaan atau keabadian keduanya tidak ada yang lepas dari adanya keberatan. Meskipun dia tidak dapat memutuskan secara rasional apakah alam semesta diciptakan atau abadi, dia berkesimpulan bahwa pasti ada sebuah penyebab yang tetap bergantung dan bahwa penyebab ini atau 'necessary being' bersifat non fisik dan hakikatnya diatas itu, bahkan jika tidak pada waktunya.

Dia juga menyimpulkan bahwa obyek dalam dirinya yang memahami penyebab ini juga bersifat non-fisik. Semakin dilepaskan obyek non-fisik dalam dirinya yang berasal dari kesadaran panca indera, semakin dekat kemampuannya untuk melihat penyebab ini, sebuah penglihatan yang memiliki kegembiraan tertinggi. Meskipun sensasi menghambat penglihatan ini, dia merasa wajib untuk meniru binatang-binatang dengan mengalami sensasi-sensasi untuk melindungi jiwa binatangnya yang akan mampu membuatnya meniru tubuh surgawi. Meniru tubuh surgawi dengan melakukan hal-hal seperti gerakan melingkar memberinya visi kontinu tetapi tidak murni.

Dengan pengetahuan tentang "necessary being", Hayy berusaha untuk meniru sifat-sifat positif dari hal tersebut. Dengan sebuah usaha untuk mentranseden dunia fisik, dia berusaha untuk meniru sifat-sifat yang negatif. Peniruan dari "necessary being" untuk tujuan ini tidak melibatkan diri dan oleh karena itu memberinya penglihatan yang murni. Tidak hanya diri atau hakikat Hayy dihapus dalam keadaan ini, tapi juga segala sesuatu selain dari "necessary being". Tidak ada penglihatan, pendengaran, atau percakapan manusia dapat memahami keadaan ini, karena itu terletak di luar dunia dan pengalaman akal. Oleh karenanya tidak ada penjelasan bahwa "necessary being" dapat diebrikan, hanya tanda-tanda saja, seperti yang dinyatakan oleh Ibnu Sina dalam al-Isharat wa-'l-tanbihat (Remarks and Admonitions). Seseorang yang mencari sebuah penjelasan dari keadaan ini adalah seperti seseorang yang mencari 'rasa dari warna karena mereka adalah warna-the taste of colours inasmuch as they are colours-'. Verifikasi membutuhkan pengalaman langsung. Menggunakan bahasa manusia yang dideskripsikan seperti sebuah alat yang tanggung, untuk mengisyaratkan kebenaran hayy berkata bahwa harus ada bukti dalam keadaan ini, "necessary being" menembus seluruh alam semesta seperti sinar matahari menembus seluruh dunia fisik. Mencoba untuk mengungkapkan yang tak terungkap, Ibnu Thufail mengatakan bahwa Hayy menyadari dalam kondisi ini bahwa keseluruhan adalah satu, kesatuan dalam keanekaragaman, seperti pertentangan lain, keberadaan hanya untuk tanggapan panca indera. 

Di pulau sebelah, sekelompok orang termasuk sang raja, Salaman, mempraktekkan sebuah agama yang masih menyiapkan misa-misa dengan simbol-simbol, bukan kebenaran secara langsung. Absal, teman Salaman, menyelidiki ritual dari agama ini tapi bertentangan dengan mereka yang mematuhi arti harfiah dari agama itu, dia menggali kebenaran sampai kedalam. Kecenderungan secara alami untuk menyendiri, seperti yang terdapat dalam perjanjian dengan kutipan-kutipan tertentu dari Kitab Suci, Absal pindah ke pulau dimana Hayy tinggal. Ketika dia bertemu dengan Hayy, dia merasa takut sampai Hayy menjelaskan bahwa dia tidak mempunyai maksud jahat. Absal lalu mengajari Hayy bahasa manusia dengan menunjuk ke sebuah obyek sambil mengatakan kata-kata yang tepat untuk menggambarkannya. Dengan bahasa yang ia dapat, Hayy mampu untuk menjelaskan pada Absal tentang pengetahuan-pengetahuan yang didapatnya. 

Mendengar hal tersebut, Absal menyadari bahwa apa yang telah disaksikan Hayy adalah kenyataan-kenyataan yang digambarkan dalam agamanya: Tuhan, malaikat, kitab suci, nabi, akhirat dan lain sebagainya. Ketika Absal membicarakan kebenaran-kebenaran dalam agamanya, Hayy juga menemukan kebenaran-kebenaran ini sesuai dengan apa yang telah dia ketahui. Akan tetapi, Hayy tidak dapat mengerti mengapa agama Absal menggunakan simbol-simbol dan membolehkan indulgensi dalam obyek-obyek material.
Hayy mengungkapkan ketertarikannya untuk mengunjungi pulau seberang untuk menjelaskan pada penduduknya tentang kebenaran yang sejati. Absal, yang tahu kondisi pulaunya, enggan untuk menemaninya. Berhadapan dengan kelompok yang paling cerdas di pulau tersebut, Hayy menunjukkan rasa hormatnya sampai dia mencoba untuk melampaui makna harfiah dari Kitab suci mereka. Orang-orang mulai menjauhinya, mengalihkan perhatian mereka dari kabenaran dengan aktivitas perdagangan. Hayy kemudian mengerti bahwa orang-orang tidak mampu untuk memahami kebenaran sejati dan agama tersebut dibutuhkan untuk kestabilan sosial dan kemanan mereka. Kestabilan sosial dan keamana, akan tetapi, tak ada jalan keselamatan untuk mencapai kebahagiaan akhirat. Hanya obsesi ke-ilahian, yang langka dijumpai diantara orang-orang ini, yang dapat menyediakan jalan keselamatan kebahagiaan akhirat. Sebaliknya, obsesi keduniaan yang dianut oleh sebagian bersar orang-orang ini akan membiarkan diri mereka berakhir dalam kegelapan atau neraka.

Sementara kebenaran akal dan wahyu adalah sama, sebagian besar dari mereka mengikuti pilihan yang kedua, melakukannya untuk kesuksesan duniawi dan karenanya mengalami kesengsaraan akhirat. Menyadari bahwa usahanya untuk memberikan pencerahan pada orang-orang ini hanya akan menurunkan stabilitas mereka tanpa mempersiapkan mereka untuk suatu kebahagiaan, Hayy meminta masyarakat untuk melanjutkan aktivitas agama mereka, memperingatkan mereka hanya terhadap kegemaran mereka terhadap hal-hal duniawi. Hayy dan Absal kemudian kembali ke pulau kosong untuk mempraktekkan ilmu mereka dalam keterasingan.

Ibnu Thufail mengakhirkan ceritanya dengan menggambarkannya seperti 'menyediakan sepotong pembahasan yang tidak ditemukan dalam sebuah buku atau didengar dalam pembicaraan'. Bagaimana hal ini harus dimengerti ketika beliau sebelumnya telah mengatakan pada kita di pendahuluan bahwa hasil karyanya ini adalah sebuah elaborasi dari kebijaksanaan oriental Ibnu Sina? Mungkin jawabannya dapat ditemukan dalam penegasan Ibnu Thufail tentang keunikan dari 'pembahasan' atau 'pembicaraan' tertentu, bukan di dalam keunikan dari isinya. Jika demikian, keaslian karya akan tampak terletak hanya dalam bentuknya.

Wafatnya Ibnu Thufail

Ibnu Tufail meninggal dunia pada tahun 1185 M di Maroko. Hingga kini, namanya tetap abadi lewat karya tulis yang dihasilkannya. Dunia Barat tetap menghormati dan mengaguminya sebagai seorang ilmuwan hebat. Sayangnya, justru peradaban Islam yang kerap melupakan jasa-jasa ilmuwan Muslim di era keemasannya. Peradaban Islam modern lebih takjub pada ilmuwan-ilmuwan Barat yang se jatinya belajar dari ilmuwan Muslim. Tak heran jika generasi muda Muslim lebih mengetahui ilmuwan Barat dibandingkan ilmuwan Islam. Sosok Ibnu Thufail sangat penting untuk dikaji dan di perkenalkan kepada generasi muda Islam. Sehingga mereka bisa bangga dan meniru jejak perjuangannya.


Ibnu Thufail adalah seorang Filosof yang memiliki disiplin ilmu dalam berbagai bidang, tetapi idak banyak mempunyai karya-karya seperti filosof lainnya, hanya sedikit karya-karyanya yang dikenal oleh orang. Kemudian pemikiran yang dihasilkan oleh Ibnu Thufail, yaitu: metafisika, Fisika, Jiwa, Epistimologi dan Rekonsiliasi antara filsafat dan agama. Salam saya...




DAFTAR PUSTAKA
Ahmad Zainal Hamdi, Tujuh Filsuf Muslim, Yoyakarta: Pustaka Pesantren, 2004.
Prof. Dr. H. Sirajjuddin, MA. Filsafat Islam Filosof dan Filsafatnya, Yogyakarta: PT.
Raja Grafindo Persada, 2007.
M.M. Syarif, MA. “The Philosophers”, dari buku History of Muslim Philoshophy,
Bandung: Mizan, cet. I, 1985
Sumber http://www.zulfanafdhilla.com/

Selain sebagai media informasi pendidikan, kami juga berbagi artikel terkait bisnis.

Biografi Ibnu Bajjah (Dokter & Filosof Terhebat Di Masa Emas Islam)

Jangan lupa membaca artikel tentang bisnis di > Informasi bisnis terbaik.


Ibnu Bajjah (ابن باجة) atau lengkapnya Abu Bakar Muhammad bin Yahya bin ash-Shayigh (أبو بكر محمد بن يحيى بن الصايغ) merupakan filsuf dan dokter Muslim Andalusia yang dikenal di Barat dengan nama Latinnya, Avempace. Ia lahir di Saragossa di tempat yang kini bernama Spanyol dan meninggal di Fez pada 1138.

Pemikirannya memiliki pengaruh yang jelas pada Ibnu Rushdi dan Yang Besar Albert. Kebanyakan buku dan tulisannya tidak lengkap (atau teratur baik) karena kematiannya yang cepat. Ia memiliki pengetahuan yang luas pada kedokteran, Matematika, dan Astronomi. Sumbangan utamanya pada filsafat Islam ialah gagasannya pada Fenomenologi Jiwa, namun sayangnya tak lengkap.

Ekspresi yang dicintainya ialah Gharib (غريب) dan Motivahhed (متوح), ekspresi yang diakui dan terkenal dari Gnostik Islam.

Para ahli sejarah memandangnya sebagai orang yang berpengetahuan luas dan mampu dalam berbagai ilmu. Fath ibnu Khayan yang telah menuduh Ibnu Bajjah sebagai ahli bid’ah dan mengecam pedas dalam karyanya (Qawa’id al-Iqyan) pun mengakui kekuasaan ilmu pengetahuannya dan tidak pernah meragukan kepandaiannya. Ibnu Bajjah menguasai sastra, tata bahasa, dan filsafat kuno. Oleh tokoh-tokoh sezamannya, Ibnu Bajjah disejajarkan dengan al-Syam al-Rais Ibnu Sina.

Selain menguasai beragam ilmu, Ibnu Bajjah pun dikenal pula sebagai politikus ulung.Kehebatannya dalam berpolitik mendapat perhatian dari Abu Bakar Ibrahim, gubernur Saragosa. Ia pun diangkat sebagai menteri semasa Abu Bakr Ibrahim berkuasa di Saragossa. Setelah itu, Ketika kota Saragossa jatuh ketangan raja alfonso 1 di Aragon ibnu bajjah terpaksa pindah ke kota Seville via Valencia. Di kota ini ia bekerja sebagai seorang dokter. Kemudian dari sini ia pindah ke Granada dan selanjutnya berangkat ke afrika utara, pusat kerajaan dinasti murabith barbar. Setelah itu Ibnu bajjah berangkat pula ke fez, marokko. Di kota ini ia di angkat menjadi wazir oleh Abu bakar yahya ibnu yusuf ibnu tashfin selama 20 tahun. Akhirnya di kota inilah ia menghembuskan napasnya yang terakhir pada bulan ramadhan 533 H/1138 M, menurut beberapa informasi kematianya ini karena di racuni oleh temanya, “Ibn zuhr” dokter termasyhur pada zaman itu, yang iri hati terhadap kejeniusanya.

Hasil karya Ibnu Bajjah

Beberapa karya Ibnu Bajjah adalah:
  1. Filsafat al-Wada’, berisi tentang ilmu pengobatan
  2. Tardiyyan, berisi tentang syair pujian
  3. Kitab an-Nafs, berisi tentang catatan dan pendahuluan dalam bahasa Arab
  4. Tadbir al-Mutawahhid, rezim satu orang
  5. Risalah-risalah Ibnu Bajjah yang berisi tentang penjelasan atas risalah-risalah al-Farabi dalam masalah logika.
karya-karya yang disunting oleh Asin Palacis dengan terjemahan bahasa Spanyol dan catatan-catatan yang diperlukan:
  • Kitab al-Nabat, al-Andalus jilid V, 1940
  • Risalah Ittishal al-Aql bil insan, al-Andalus, jilid VII, 1942
  • Risalah al-Wada’, al-Andalus, jilid VIII, 1943
  • Tadbir al-Mutawahhid, dengan judul el-Regimen del solitario, 1946
     6. Majalah al-Majama’ al-Ilm al-Arabi

Kontribusi Ibnu Bajjah dalam Bidang Sains

Astronomi
Ibnu Bajjah ternyata turut berperan dalam mengembangkan ilmu astronomi Islam. Seorang ilmuwan Yahudi dari Andalusia, Moses Maimonides, menyatakan bahwa Ibnu Bajjah telah mencetuskan sebuah model planet. ”Saya pernah mendengar Ibnu Bajjah telah menemukan sebuah sistem yang tak menyebut terjadinya epicycles. Saya belum pernah mendengar itu dari muridnya,” ungkap Maimonides.

Selain itu, Ibnu Bajjah pun telah mengkritisi pendapat Aristoteles tentang Meteorologi. Ia bahkan telah mengungkapkan sendiri teorinya tentang Galaksi Bima Sakti. Ibnu Bajjah menegaskan, Galaksi Bima Sakti sebagai sebuah fenomena luar angkasa yang terjadi di atas bulan dan wilayah sub-bulan.
Pendapatnya itu dicatat dalam Ensiklopedia Filsafat Stanford sebagai berikut: ”Bima Sakti adalah cahaya bintang-bintang yang sangat banyak yang nyaris berdekatan satu dengan yang lainnya. Cahaya kumpulan bintang itu membentuk sebuah ”khayal muttasil” (gambar yang berkelanjutan). Menurut Ibnu Bajjah, ”khayal muttasil” itu sebagai hasil dari pembiasan (refraksi).” Guna mendukung penjelasannya itu, Ibnu Bajjah pun melakukan pengamatan terhadap hubungan dua planet, yakni Yupiter dan Mars pada 500 H/1106 M.

Fisika
Dalam bidang fisika Islam, Ibnu Bajjah mengungkapkan hukum gerakan. Prinsip-prinsip yang dikemukakannya itu menjadi dasar bagi pengembangan ilmu mekanik modern. Pemikirannya dalam bidang fisika banyak memengaruhi fisikawan Barat abad pertengahan, seperti Galileo Galilei. Tak heran, jika hukum kecepatan yang dikemukakannya sangat mirip dengan yang dipaparkan Galilei.

Menurut Ibnu Bajjah: Kecepatan = Gaya Gerak – Resistensi Materi. Ibnu Bajjah pun adalah fisikawan pertama yang mengatakan selalu ada gaya reaksi untuk setiap gaya yang memengaruhi. Ibnu Bajjah pun sangat memengaruhi pemikiran Thomas Aquinas mengenai analisis gerakan. Inilah salah satu bukti betapa peradaban barat banyak terpengaruh dengan sains yang dikembangkan ilmuwan Muslim.

Psikologi
Ibnu Bajjah pun juga sangat berjasa dalam mengembangkan psikologi Islam. Pemikirannya tentang studi psikologi didasarkan pada ilmu fisika. Dalam risalah yang ditulisnya berjudul, Recognition of the Active Intelligence, Ibnu Bajjah menulis inteligensia aktif adalah kemampuan yang paling penting bagi manusia. Dia juga menulis banyak hal tentang sensasi dan imajinasi.

”Pengetahuan tak dapat diperoleh dengan pikiran sehat saja, tapi juga dengan inteligensia aktif yang mengatur intelegensia alami,” ungkap Ibnu Bajjah. Ia juga mengupas tentang jiwa. Bahkan, secara khusus Ibnu Bajjah menulis kitab berjudul, Al-Nafs, atau Jiwa. Dia juga membahas tentang kebebasan. Menurut dia, seseorang dikatakan bebas ketika dapat bertindak dan berpikir secara rasional.

DAFTAR PUSTAKA
Nasution Hasimsyah. 2003, Filsafat Islam, Jakarta: Gaya Media Pratama.
Mustofa. 2009, Filsafat Islam, bandung: pustaka setia.
Zar Sirojuddin. 2004, Filsafat Islam-filosof & filsafatnya, Jakarta:Raja Grafindo Persada.

Sumber http://www.zulfanafdhilla.com/

Selain sebagai media informasi pendidikan, kami juga berbagi artikel terkait bisnis.

Biografi Ibnu Sina (Bapak Kedokteran Modern Dunia)

Jangan lupa membaca artikel tentang bisnis di > Informasi bisnis terbaik.


Ibnu Sina (Avicenna)
Ibnu Sina adalah seorang pakar kedokteran terkenal dan mendunia. Dia dikenal dengan bapak kedokteran modern, atas berkat usahanya yang merubah dan memunculkan wawasan dan warna baru di dunia kedoteran. Namun, selain beliau berkecimpung di bidang kedokteran, ternyata beliau juga lihai dalam bidang filsafat. Subhanallah

Syeikhur Rais, Abu Ali Husein bin Abdillah bin Hasan bin Ali bin Sina, yang dikenal dengan sebutan Ibnu Sina atau Avicenna lahir pada tahun 370 hijriyah di sebuah kota Asyfahnah desa Khormeisan dekat Bukhara, sekarang wilayah Uzbekistan (kemudian Persia), dan meninggal pada bulan Juni 1037 di Hamadan, Persia (Iran). Sejak masa kanak-kanak, Ibnu Sina yang berasal dari keluarga bermadzhab Syi'ah Ismailiyah dan sudah akrab dengan pembahasan ilmiah terutama yang disampaikan oleh ayahnya.

Dia adalah pengarang dari 450 buku pada beberapa pokok bahasan besar. Banyak di antaranya memusatkan pada filosofi dan kedokteran. Dia dianggap oleh banyak orang sebagai "bapak kedokteran modern." George Sarton menyebut Ibnu Sina "ilmuwan paling terkenal dari Islam dan salah satu yang paling terkenal pada semua bidang, tempat, dan waktu." pekerjaannya yang paling terkenal adalah The Book of Healing dan The Canon of Medicine, dikenal juga sebagai sebagai Qanun (judul lengkap: Al-Qanun fi At Tibb).

Ibnu Sina secara penuh memberikan perhatiannya kepada aktivitas keilmuan. Kejeniusannya membuat ia cepat menguasai banyak ilmu, dan meski masih berusia muda, beliau sudah mahir dalam bidang kedokteran. Beliau pun menjadi terkenal, sehingga Raja Bukhara Nuh bin Mansur yang memerintah antara tahun 366 hingga 387 hijriyah saat jatuh sakit memanggil Ibnu Sina untuk merawat dan mengobatinya.

Berkat itu, Ibnu Sina dapat leluasa masuk ke perpustakaan istana Samani yang besar. Ibnu Sina mengenai perpustakan itu mengatakan
demikian;
“Semua buku yang aku inginkan ada di situ. Bahkan aku menemukan banyak buku yang kebanyakan orang bahkan tak pernah mengetahui namanya. Aku sendiri pun belum pernah melihatnya dan tidak akan pernah melihatnya lagi. Karena itu aku dengan giat membaca kitab- kitab itu dan semaksimal mungkin memanfaatkannya... Ketika usiaku menginjak 18 tahun, aku telah berhasil menyelesaikan semua bidang ilmu.” 
Ibnu Sina menguasai berbagai ilmu seperti hikmah, mantiq, dan matematika dengan berbagai cabangnya.

Latar Belakangnya

Ibnu Sina merupakan seorang filsuf, ilmuwan, dokter dan penulis aktif yang lahir di jaman keemasan Peradaban Islam. Pada jaman tersebut ilmuwan-ilmuwan muslim banyak menerjemahkan teks ilmu pengetahuan dari Yunani, Persia dan India. Teks Yunani dari jaman Plato, sesudahnya hingga jaman Aristoteles secara intensif banyak diterjemahkan dan dikembangkan lebih maju oleh para ilmuwan Islam. Pengembangan ini terutama dilakukan oleh perguruan yang didirikan oleh Al-Kindi. Pengembangan ilmu pengetahuan di masa ini meliputi matematika, astronomi, Aljabar,Trigonometri, dan ilmu pengobatan. Pada jaman Dinasti Samayid dibagian timur Persian wilayah Khurasan dan Dinasti Buyid dibagian barat Iran dan Persian memberi suasana yang mendukung bagi perkembangan keilmuan dan budaya. Di jaman Dinasti Samaniyah, Bukhara dan Baghdad menjadi pusat budaya dan ilmu pengetahun dunia Islam.

Ilmu-ilmu lain seperti studi tentang Al-Quran dan Hadist berkembang dengan perkembangan dengan suasana perkembangan ilmiah. Ilmu lainya seperti ilmu filsafat, Ilmu Fikih, Ilmu Kalam sangat berkembang dengan pesat. Pada masa itu Al-Razi dan Al-Farabi menyumbangkan ilmu pengetahuan dalam bidang ilmu pengobatan dan filsafat. Pada masa itu Ibnu Sina memiliki akses untuk belajar di perpustakaan besar di wilayah Balkh, Khwarezmia, Gorgan, Kota Ray, Kota Isfahan dan Hamedan. Selain fasilitas perpustakaan besar yang memiliki banyak koleksi buku, pada masa itu hidup pula beberapa ilmuwan muslim seperti Abu Raihan Al-Biruni seorang astronom terkenal, Aruzi Samarqandi, Abu Nashr Mansur seorang matematikawan terkenal, Abu al-Khayr Khammar seorang fisikawan dan ilmuwan terkenal lainya.

Karir Ibnu Sina

Mengawali karirnya yang pertama Ibnu Sina mengikuti kiprah orang tuanya, yaitu membantu tugas-tugas amir Nuh bin Mansur. Ia misalnya diminta menyusun kumpulan pemikiran filsafat oleh Abu al-Husain al-Arudi. Untuk ini ia menyusun buku al-Majmu’. Setelah itu ia menulis buku al-Hashil wa al-Mashul dan al-Birr wa al-Ism atas permintaan Abu Bakar al-Barqy al-Hawarizmy.

Setelah usianya memasuki dua puluh dua tahun, ayahnya meninggal dunia, dan kemudian terjadi kemelut politik di tubuh pemerintahan Nuh bin Mansur. Kedua orang putera kerajaan, yaitu Mansur dan Abd Malik saling berebut kekuasaan, yang dimenangkan oleh Abd Malik. Selanjutnya dalam pemerintahan yang belum stabil itu terjadi serbuam yang dilakukan oleh kesultanan Mahmud al-Ghaznawi, sehingga seluruh wilayah kerajaan Samani yang berpusat di Bukhara jatuh ke tangan Mahmud al-Ghaznawi tersebut.

Dalam keadaan situasi politik yang bagitu ricuh, Ibnu Sina memutuskan untuk meninggalkan daerah asalnya. Ia pergi ke Karkang yang termasuk ibukota al-Khawarizm, dan di daerah tersebut Ibnu Sina mendapat penghormatan dan perlakuan yang baik. Di kota ini pula Ibnu Sina banyak berkenalan dengan sejumlah pakar para ilmuwan seperti, Abu al-Khir al-Khamar, Abu Sahl ‘Isa bin Yahya al-Masity al-Jurjani, Abu Rayhan al-Biruni dan Abu Nash al-Iraqi. Setelah itu Ibnu Sina melanjutkan perjalanan ke Nasa, Abiwarud, Syaqan, Jajarin dan terus ke Jurjan. Setelah kota yang ia singgahi terakhir ini juga kurang aman, Ibnu Sina memutuskan pindah ke Rayi dan bekerja pada As-Sayyidah dan puteranya Madjid al-Daulah yang pada waktu itu terserang penyakit, dan membantu menyembuhkannya.

Pendidikan Ibnu Sina

Pendidikan Ibnu Sina di mulai pada usia lima tahun di kota kelahirannya, Bukhara. Pengetahuan yang pertama kali yang Ibnu Sina pelajari adalah membaca al-Qur’an, setelah itu pendidikan Ibnu sina dilanjutkan dengan mempelajari ilmu-ilmu agama Islam seperti Tafsir, Fiqih, Ushuluddin dan lain sebagainya. Berkat ketekunan dan kecerdasannya, Ibnu Sina berhasil menghafal al-Quran dan menguasai berbagai cabang ilmu-ilmu agama tersebut pada usia yang belum genap sepuluh tahun.

Dalam bidang Pendidikan lain, ibnu sina juga mempelajari beberapa disiplin ilmu diantaranya Matematika, logika, fisika, kedokteran, Astronomi, Hukum, dan sebagainya.Dengan kecerdasan yang beliau miliki, beliau banyak mempelajari filsafat dan cabang-cabangnya, kesungguhan yang cukup mengagumkan ini menunjukkan bahwa ketinggian otodidaknya, namun pada saat ibnu sina menyelami ilmu metafisika nya Arisstoteles, beliau mengalami kesulitan kendati sudah berulang-ulang membacanya bahkan beliau menghafalnya, tetap saja beliau belum dapat memahami isinya. setelah ibnu sina membaca karya Al-Farabi dalam buku risalahnya, barulah Ibnu Sina dapat memahami ilmu metafisika dengan baik. Secara tidak langsung Ibnu Sina telah berguru kepada al-Farabi, bahkan dalam otobiografinya disebutkan mengenai utang budinya kepada Al-Farabi.

Pada usia 16 tahun ibnu sina mulai dikenal sebagai ahli pengobatan, dan sudah benar-benar dikenal pada saat beliau berumur 17 tahun dengan pembuktian bahwa beliau telah berhasil menyembuhkan penyakit yang diderita sultan Samani Nuh Ibn Mansur. Untuk menambah ilmunya, dalam bidang pendidikan ibnu sina juga banyak menghabiskan sebahagian waktunya dengan membaca serta membahas buku-buku yang beliau anggap penting di perpustakaan kerajaan Nuh ibnu Manshur yang bernama kutub Khana, di sinilah ibnu sina melepaskan dahaga belajarnya siang malam sehingga semua ilmu pengetahuan dapat dikuasainya dengan baik. dalam sejarah, pendidikan ibnu sina tidak diragukan lagi, dari kesungguhan dan keseriusan beliau, secara tidak langsung telah memberikan sumbangsih besar bagi kita umat islam seluruh dunia. dari ketekunan dan kesungguhan ibnu sina, kita dalam belajar bagaimana sejarah perjalanan pendidikan ibnu sina yang penuh perjuangan dan kerja keras.

Karya-Karya Ibnu Sina

Dalam sejarah kehidupannya, Ibnu Sina juga dikenal sebagai seorang ilmuwan yang sangat produktif dalam menghasilkan berbagai karya buku. Buku-buku karangannya hampir meliputi seluruh cabang ilmu pengetahuan, diantarannya ilmu kedokteran, filsafat, ilmu jiwa, fisika, logika, politik dan sastra arab. Adapun karya-karyanya sebagai berikut :
  1. Kitab Qanun fi al-Thib, yang merupakan karya ibnu sina dalam bidang ilmu kedokteran. Buku ini pernah menjadi satu-satunya rujukan dalam bidang kedokteran di Eropa selama lebih kurang lima abad. Buku ini merupakan iktisar pengobatan Islam dan diajarkan hingga kini di Timur.
  2. Kitab As-Syifa, yang merupakan karya ibnu sina juga dalam bidang filsafat. Kitab ini antara lain berisikan tentang uraian filsafat dengan segala aspeknya
  3. Kitab An-Najah, yang merupakan kitab yang berisikan ringkasan dari kitab As-Syifa, kitab ini ditulis oleh ibnu sina untuk para pelajar yang ingin mempelajari dasar-dasar ilmu hikmah, selain itu buku ini juga secara lengkap membahas tentang pemikiranIbnu Sina tentang ilmu Jiwa.
  4. Kitab Fi Aqsam al-Ulum al-Aqliyah, yang merupakan karyanya dalam bidang ilmu fisika. Buku ini ditulis dalam bahasa Arab dan masih tersimpan dalam berbagai perpustakaan di Istanbul, penerbitannya pertama kali dilakukan di Kairo pada tahun 1910 M, sedangkan terjemahannya dalam bahasa Yahudi dan Latin masih terdapat hingga sekarang.
  5. Kitab al- Isyarat wa al-Tanbihat, isinya mengandung uraian tentang logika dan hikmah.
  6. Kitab Lisan al-Arab, kitab ini merupakan hasil karyanya dalam bidang sastra Arab. Kitab ini berjumlah mencapai sepuluh jilid. Menurut suatu informasi menjelaskan bahwa buku ini Ibnu Sina susun sebagai jawaban terhadap tantangan dari seorang pujangga sastra bernama Abu Mansur al-Jubba’I di hadapan Amir ‘Ala ad-Daulah di Ishfahan.
Kitab Qanun
Lembaran dari kitab Qanun
Selain kitab-kitab tersebut masih banyak karya dari ibnu sina yang berjumlah cukup besar, namun untuk mengetahui berapa jumlah buku karya-karya ibnu sina tersebut secara pasti sangatlah sulit, mengingat perbedaan tentang sedikit banyaknya data yang digunakan. Namun untuk menjawab hal ini, setidaknya ada dua pendapat.

Pertama, dari penyelidikan yang dilakukan oleh Father dari Domician di Kairo terhadap karya-karya Ibnu Sina, ia mencatat sebanyak 276 (dua ratus tujuh puluh enam) buah. 
Kedua, Phillip K.Hitti dengan menggunakan daftar yang dibuat al-Qifti mengatakan bahwa karya-karya Ibnu Sina sekitar 99 (sembilan puluh sembilan) buah (Abuddin Nata, Pemikiran Para Tokoh Pendidikan Islam, ( Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 2000), h. 65)

Kontribusi Ibnu Sina

kontribusi yang ditorehkan dari hasil karya-karya ibnu sina atau avicenna telah menghantarkan kepada manusia akan pengetahuan mereka dalam bidang kedokteran.Ibnu sina tidak saja memberikan kontribusi dalam bidang kedokteran, akan tetapi dalam bidang-bidang lainnya. Dalam ilmu kedokteran, kitab Al-Qanun tulisan Ibnu Sina selama beberapa abad menjadi kitab rujukan utama dan paling otentik. Kitab ini mengupas kaedah-kaedah umum ilmu kedokteran, obat-obatan dan berbagai macam penyakit. Seiring dengan kebangkitan gerakan penerjemahan pada abad ke-12 masehi, kitab Al-Qanun karya Ibnu Sina diterjemahkan ke dalam bahasa Latin. Kini buku tersebut juga sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Prancis dan Jerman. Al-Qanun adalah kitab kumpulan metode pengobatan purba dan metode pengobatan Islam. Kitab ini pernah menjadi kurikulum pendidikan kedokteran di universitas-universitas Eropa.

Dikatakan bahwa Ibnu Sina memiliki karya tulis yang dalam bahasa latin berjudul De Conglutineation Lagibum. Dalam salah bab karya tulis ini, Ibnu Sina membahas tentang asal nama gunung-gunung. Pembahasan ini sungguh menarik. Di sana Ibnu Sina mengatakan, “Kemungkinan gunung tercipta karena dua penyebab. Pertamamenggelembungnya kulit luar bumi dan ini terjadi lantaran goncangan hebat gempa. Kedua karena proses air yang mencari jalan untuk mengalir. Proses mengakibatkan munculnya lembah-lembah bersama dan melahirkan penggelembungan pada permukaan bumi. Sebab sebagian permukaan bumi keras dan sebagian lagi lunak. Angin juga berperan dengan meniup sebagian dan meninggalkan sebagian pada tempatnya. Ini adalah penyebab munculnya gundukan di kulit luar bumi.”

Ibnu Sina dengan kekuatan logikanya -sehingga dalam banyak hal mengikuti teori matematika bahkan dalam kedokteran dan proses pengobatan- dikenal pula sebagai filosof tak tertandingi. Menurutnya, seseorang baru diakui sebagai ilmuan, jika ia menguasai filsafat secara sempurna. Ibnu Sina sangat cermat dalam mempelajari pandangan-pandangan Aristoteles di bidang filsafat. Ketika menceritakan pengalamannya mempelajari pemikiran Aristoteles, Ibnu Sina mengaku bahwa beliau membaca kitab Metafisika karya Aristoteles sebanyak 40 kali. Beliau menguasai maksud dari kitab itu secara sempurna setelah membaca syarah atau penjelasan ‘metafisika Aristoteles’ yang ditulis oleh Farabi, filosof muslim sebelumnya.

Dalam filsafat, kehidupan Abu Ali Ibnu Sina mengalami dua periode yang penting. Periode pertama adalah periode ketika beliau mengikuti faham filsafat paripatetik. Pada periode ini, Ibnu Sina dikenal sebagai penerjemah pemikiran Aristoteles. Periode kedua adalah periode ketika Ibnu Sina menarik diri dari faham paripatetik dan seperti yang dikatakannya sendiri cenderung kepada pemikiran iluminasi.

Pemikiran Filsafat Ibnu Sina

Dibidang filsafat, Ibnu Sina dianggap sebagai imam para filosof di masanya, bahkan sebelum dan  sesudahnya, dan dia pun dikenal sebagai penyair, sehingga Ilmu – ilmu pengetahuan seperti ilmu jiwa, kedokteran dan kimia, ada yang ditulisnya dalam bentuk syair. Begitu pula didapati buku – buku yang dikarangnya untuk ilmu logika dengan syair.

Ibnu Sina juga dikenal produktif dalam berkarya. Karya – karya Ibnu Sina yang ternama dalam lapangan Filsafat adalah As-Shifa, An-Najat dan Al-Isyarat wat-Tanbihat. An-Najat adalah resum dari kitab As-Shifa. Al-Isyarat wat-Tanbihat, dikarangkannya kemudian, untuk ilmu tasawuf. Selain dari itu, karyanya yang paling masyhur adalah Al-Qanun (di barat terkenal dengan sebutan Canon of Medicine) yang merupakan ikhtisar pengobatan Islam dan diajarkan hingga kini. Selain itu, masih banyak lagi karangan-karangan lain di bidang filsafat, etika, logika, dan psikologi.

Filsafat Ibnu Sina
Ibnu Sina sangat mengutamakan logika, justru fikiran adalah satu jalan pengetahuan yang diberikan dengan satu aturan tertentu kepada suatu yang tidak diketahui. Jalan fikirannya bertolak dari konsepsi makhluk dan mengembangkan dengan argumentasi ontologia.

Menurut dia, ada tiga macam sesuatu yang ada. Pertama, pentingnya dalam diri sendiri, tidak perlu kepada sebab lain untuk kejadiannya selain dirinya sendiri (yakni Tuhan). Kedua, berkehendak kepada yang lain, yaitu makhluk yang butuh kepada yang menjadikannya. Ketiga, makhluk mungkin, yaitu bisa ada dan bisa tidak ada, dan dia sendiri tidak butuh kepada kejadiannya (benda-benda yang tak berakal seperti pohon-pohon, batu, dan sebagainya).

Secara garis besar Ibnu Sina membagi menjadi dua segi yaitu:
Segi fisika, yang membicarakan tentang macam – macam jiwa (jiwa tumbuhkan, jiwa hewan dan jiwa manusia). Jiwa tumbuh-tumbuhan dengan daya – daya: Makan (nutrition), Tumbuh (growth), Berkembang biak (reproduction).
Jiwa binatang dengan daya-daya: Gerak (locomotion), Menangkap (perception) dengan dua bagian: Menagkap dari luar dengan panca indera dan Menangkap dari dalam dengan indera – indera dalam: 
  • Indera bersama, yang menerima segala apa yang ditangkap oleh panca indera. 
  • Representasi, yang menyimpan segala apa yang diterima oleh indera bersama. 
  • Imajinasi, yang dapat menyusun apa yang disimpan dalam representasi. 
  • Estimasi, yang dapat menangkap hal – hal abstraks yang terlepas dari materi umpamanya keharusan lari bagi kambing dari anjing serigala. 
  • Rekoleksi yang menyimpan hal – hal abstrak yang diterima oleh estimasi. 
Jiwa manusia dengan daya-daya:
  • Praktis, yang hubungannya dengan badan. 
  • Teoritis, yang hubungannya adalah dengan hal-hal abstrak. Daya ini mempunyai tingkatan: 
  1. Akal materil, yang semata – mata mempunyai potensi untuk berfikir dan belum dilatih sedikitpun. 
  2. Intelectual in habits, yang telah mulai dilatih untuk berfikir tentang hal – hal abstrak. 
  3. Akal actuil, yang telah dapat berfikir tentang hal – hal abstrak. 
  4. Akal mustafad yaitu akal yang telah sanggup berfikir tentang hal – hal abstrak dengan tak perlu pada daya upaya.
Segi metafisika, yang membicarakan tentang wujud dan hakikat jiwa, pertalian jiwa dengan badan dan keabadian jiwa.

Bagi Ibnu Sina sifat wujudlah yang terpenting dan yang mempunyai kedudukan diatas segala sifat lain, walaupun essensi sendiri. Essensi, dalam faham Ibnu Sina terdapat dalam akal, sedang wujud terdapat di luar akal. Wujudlah yang membuat tiap essensi yang dalam akal mempunyai kenyataan diluar akal. Tanpa wujud, essensi tidak besar artinya. Oleh sebab itu wujud lebih penting dari essensi.

Kalau dikombinasikan, essensi dan wujud dapat mempunyai kombinasi berikut :
  1. Essensi yang tak dapat mempunyai wujud, dan hal yang serupa ini disebut oleh Ibnu Sina mumtani’ yaitu sesuatu yang mustahil berwujud. Sebagai contoh adanya kosmos lain disamping kosmos yang ada.
  2. Essensi yang boleh mempunyai wujud dan boleh pula tidak mempunyai wujud. Yang serupa ini disebut mumkin yaitu sesuatu yang mungkin berwujud tetapi mungkin pula tidak berwujud. Contohnya adalah alam ini yang pada mulanya tidak ada kemudian ada dan akhirnya akan hancur menjadi tidak ada.
  3. Essensi yang mesti mempunyai wujud. Disini essensi tidak bisa dipisahkan dari wujud. Essensi dan wujud adalah sama dan satu. Di sini essensi tidak dimulai oleh tidak berwujud dan kemudian berwujud, tetapi essensi mesti dan wajib mempunyai wujud selama – lamanya. Yang serupa ini disebut mesti berwujud yaitu Tuhan. Dan wajib al wujud inilah yang mewujudkan mumkin al wujud.
Filsafat Ketuhanan Ibnu Sina 
Ibnu Sina merupakan murid al Farabi, jadi tidak mengherankan apabila banyak pemikiran yang memiliki kesamaan antara pemikiran Ibnu Sina dengan al Farabi. Dalam teori ketuhanan, keduanya membedakan wujud dari esensi dan menetapkan bahwa wujud sesuatu bukan merupakan bagian dari esensinya.

Kita bisa membayangkannya tanpa bias mengetahui ia ada atau tidak. Sebab, wujud merupakan salah satu aksidensia bagi substansi bukan sebagai unsur pengadanya. Prinsip demikian berlaku bagi Yang Maha Esa SWT, yang wujudnya tidak berpisah dari substansinya.

Berdasarkan jalan pikiran semacam ini, al Farabi dan Ibnu Sina menyimpulkan bahwa kita tidak membutuhkan pembuktian yang panjang untuk menetapkan eksistensi Allah. Kita cukup mengetahui zat-Nya sekaligus. Bukti ontologis ini lebih bersifat metafisis dibandingkan fisis.

Hamzah Ya’kub menambahkan bahwa Ibnu Sina menganggap Tuhan adalah sebab yang efficient dari alam. Dengan kata lain, Ibnu Sina memandang hubungan sebab akibat dan betapakah sebab itu, datang pula Tuhan sebagai sebab. Tuhan bertindak dalam alam yang bergerak terus-menerus dalam wujud yang ada, sebagai sebab dirinya sendiri atau dibutuhkan oleh yang lain.

Kesimpulan
  1. Ibnu Sina adalah ilmuan muslim yang mahir di banyak bidang seperti kedokteran, politik, kesenian, dan filsafat. Ia juga seorang yang produktif menelurkan karya. Salah satu karyanya adalah as-Syifa’ yang memuat tentang filsafat.
  2. Jalan fikiran ibnu Sina bertolak dari konsepsi makhluk dan mengembangkan dengan argumentasi ontologia. Secara garis besar, ia membagi sesuatu yang ada atas dua sisi. Yaitu Fisika dan Metafisika. 
  3. Ibnu Sina menganggap Tuhan adalah sebab yang efficient dari alam. Tuhan bertindak dalam alam yang bergerak terus-menerus dalam wujud yang ada, sebagai sebab dirinya sendiri atau dibutuhkan oleh yang lain.
Konsep dan Metode Pendidikan dan Pengajaran Ibnu Sina

Kurikulum dalam pendidikan Islam dikenal dengan istilah manhaj, yang berarti jalan terang yang harus ditempuh oleh pendidik bersam anak didiknya untuk mengembangkan pengetahuan, keterampilan dan sikap mereka. Selain itu kurikulum juga dipandang sebagai suatu program yang direncakan dan dilaksanakan untuk mencapai tujuan pendidikan. Selanjutnya dalam pembahasan ini, akan dikemukakan beberapa pandangan Ibnu Sina tentang kurikulum tersebut, yang ia membagi kurikulum tersebut kepada tinggakatan usia, sebagai berikut :

a. Usia 3 sampai 5 Tahun
Menurut Ibnu Sina, diusia ini perlu diberikan mata pelajaran olah raga, budi pekerti, kebersihan, seni suara, dan kesenian. Olahraga sebagai pendidikan jasmani, Ibnu Sina memiliki pandangan yang banyak dipengaruhi oleh pandangan psikologisnya . Menurutnya ketentuan dalam berolahraga harus disesuaikan dengan tingkat perkembangan usia anak didik serta bakat yang dimilikinya. Dengan cara demikian dapat diketahui dengan pasti mana saja di antara anak didik yang perlu diberikan pendidikan olahraga sekedarnya saja, dan mana saja di antara anak didik yang perlu dilatih berolahraga lebih banyak lagi. Ia juga merinci olah raga mana saja yang memerlukan dukungan fisik yang kuat serta keahlian; dan mana pula olahraga yang tergolong ringan, cepat, lambat, memerlukan peralatan dan sebagainya. Menurutnya semua jenis olahraga ini disesuaikan dengan kebutuhan bagi kehidupan si anak.

Pelajaran olahraga atau gerak badan tersebut diarahkan untuk membina kesempurnaan pertumbuhan fisik si anak serta berfungsinya organ tubuh secara optimal. Hal ini penting mengingat jasad/tubuh adalah tempat bagi jiwa yang harus dirawat agar tetap sehat dan kuat. Mata pelajaran olah raga yang menginginkan kesehatan jasmani memang mendapat perhatian dari Ibnu Sina, apalagi jika dihubungkan dengan keahliannnya di bidang ilmu kesehatan/ kedokteran, tentu Ibnu Sina memahami begitu pentingnya pelajaran oleh raga sebagai upaya untuk menjaga kesehatan jasmani.

Pelajaran budi pekerti diarahkan untuk membekali si anak agar memiliki kebiasaan sopan santun dalam pergaulan hidup sehari-hari. Pelajaran budi pekerti ini sangat dibutuhkan dalam rangka membina kepribadian si anak sehingga jiwanya menjadi suci, terhindar dari perbuatan-perbuatan buruk yang dapat mengakibatkan jiwanya rusak dan sukar diperbaiki kelak di usia dewasa. Dengan demikian, Ibnu Sina memandang pelajaran akhlak sangat penting ditanamkan kepada anak sejak usia dini. Pendidikan akhlak harus dimulai dari keluarga dengan keteladanan dan pembiasan secara berkelanjutan sehingga terbentuk karakter atau kepribadian yang baik bagi si anak.

Pendidikan kebersihan juga mendapat perhatian Ibnu Sina. Pendidikan ini diarahkan agar si anak memiliki kebiasaan mencintai kebersihan yang juga menjadi salah satu ajaran mulia dalam Islam. Ibnu Sina mengatakan, bahwa pelajaran hidup bersih dimulai dari sejak anak bangun tidur, ketika hendak makan, sampai ketika hendak tidur kembali. Dengan cara demikian, dapat diketahui mana saja anak yang telah dapat menerapkan hidup sehat, dan mana saja anak yang berpenampilan kotor dan kurang sehat.

Pendidikan seni suara dan kesenian diperlukan agar si anak memiliki ketajaman perasaan dalam mencintai serta meningkatkan daya khayalnya. Jiwa seni perlu dimiliki sebagai salah satu upaya untuk memperhalus budi yang pada gilirannya akan melahirkan akhlak yang suka keindahan

b. Usia 6 tahun sampai 14 tahun.
Selanjutnya kurikulum untuk anak usia 6 sampai 14 tahun menurut Ibnu Sina adalah mencakup pelajaran membaca dan menghafal Al-Qur'an, pelajaran agama, pelajaran sya'ir, dan pelajaran olahraga.

Pelajaran al-Qur'an adalah pelajaran pertama dan yang paling utama diberikan kepada anak yang sudah mulai berfungsi rasionalitasnya. Pelajaran membaca dan menghafal al-Qur'an menurut Ibnu Sina berguna di samping untuk mendukung pelaksanaan ibadah yang memerlukan bacaan ayat-ayat al-Qur'an, juga untuk mendukung keberhasilan dalam mempelajari agama Islam seperti pelajaran tafsir al-Qur'an, fiqih, tauhid, akhlak dan pelajaran agama lain-nya yang sumber utamanya adalah al-Qur'an. Selain itu pelajaran membaca dan menghafal al-Qur'an juga mendukung keberhasilan dalam mempelajari bahasa Arab, karena dengan menguasai al-Qur'an berarti ia telah menguasai ribuan kosa kata bahasa Arab atau bahasa al-Qur'an.

Pelajaran keterampilan diperlukan untuk mempersiapkan anak mampu mencari penghidupannya kelak. Dalam pendidikan modern pelajaran ini dikenal dengan vokasional. Setelah kanak-kanak diajar membaca al-Qur'an, menghafal dasar-dasar bahasa, barulah dilihat kepada pekerjaan yang akan dikerjakannya dan ia dibimbing ke arah itu, setelah gurunya tahu bahwa bukan semua pekerjaan yang diinginkannya bisa dibuatnya tetapi adalah yang sesuai dengan tabiatnya. jika ia ingin menjadi jurutulis maka haruslah ia diajar surat menyurat, pidato, diskusi, dan perdebatan dan lain-lain lagi. Begitu juga ia perlu belajar berhitung dan mempelajari tulisan indah. Kalau dikehendaki yang lain maka ia disalurkan ke situ.

Pelajaran sya'ir tetap dibutuhkan di usia ini sebagai lanjutan dari pelajaran seni pada tingkat sebelumnya. Anak perlu menghafal sya'ir-sya'ir yang mengandung nilai-nilai pendidikan akan sangat berguna dalam menuntun perilakunya, di samping petunjuk al-Qur'an dan Sunnah. Pelajaran ini dimulai dengan menceritakan syair-syair yangmenceritakan anak-anak yang glamour, sebab lebih mudah dihafal dan mudah menceritakannya serta bait-baitnya lebih pendek. Kemudian Ibnu Sina menolak ungkapan "seni adalah untuk seni", ia berpendapat bahwa seni dalam syair merupakan sarana pendidikan akhlak.

Pelajaran olah raga harus disesuaikan dengan tingkat usia ini. Dari sekian banyak olahraga, menurut Ibnu Sina yang perlu dimasukkan ke dalam kurikulum atau rancangan mata pelajaran pada usia ini adalah olahraga adu kekuatan, gulat, meloncat, jalan cepat, memanah, berjalan dengan satu kaki dan mengendarai unta. Tentu semua ini berdasarkan kebutuhan si anak dan disesuaikan dengan tingkat perkembangannya.

c. Usia 14 tahun ke atas
Menurut Ibnu Sina kurikulum pada usia ini tidaklah sama seperti kurikulum pada usia sebelumnya, pada usia ini ia membagi kurikulum tersebut kepada mata pelajaran yang bersifat teoritis dan praktis. Mata pelajaran yang bersifat teoritis antara lain ilmu fisika dan matematika, dan ilmu ketuhanan. Adapun mata pelajaran yang bersifat praktis adalah ilmu akhlak yang mengkaji tentang tentang car-cara pengurusan tingakah laku seseorang, ilmu pengurusan rumah tangga, yaitu ilmu yang mengkaji hubungan antara suami istri, anak-anak, pengaturan keuangan dalam kehidupan rumah tangga, serta ilmu politik yang mengakaji tentang bagaimana hubungan antara rakyat dan pemerintahan, kota dengan kota, bangsa dan bangsa.

Dari beberapa penjelasan tentang kurikulum yang ditawarkan oleh Ibnu Sina,jelaslah bahwa ia sangat menekankan faktor psikologis dalam membagi beberapa pelajaran yang harus diajarkan kepada anak didik, yang sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan usia anak didik tersebut.

Metode Pendidikan
Dalam proses pendidikan, metode mempunyai kedudukan yang sangat signifikan untuk mencapai tujuan. Bahkan metode sebagai seni dan cara dalam menstransfer ilmu pengetahuan (materi pelajaran) kepada peseta didik dianggap lebih signifikan dibandingkan dengan materi itu sendiri. Sebuah unggapan dalam bahasa Arab menyatakan bahwa “ al-Thariqatu Ahammu min al-Maddah ”, jika ungkapan ini diartikan ke dalam bahasa Indonesia, maka maksudnya adalah bahwa metode itu jauh lebih penting dibandingkan sebuah materi. Hal ini mengindikasikan bahwa metode yang digunakan dalam penyampaian pelajaran sangat berperan dalam keberhasilan mencapai tujuan pelajaran tersebut.

Mengenai metode pendidikan, Ibnu Sina juga sangat menaruh perhatiannya kepada metode-metode pendidikan tersebut. Metode yang ditawarkan Ibnu Sina antara lain, metode talqin, demonstrasi, pembiasaan dan teladan,diskusi, mangang, dan penugasan.

Metode talqin digunankan pada pembelajaran baca al-Quran. Dimulai dengan cara memperdengarkan bacaan al-Quran keapda anak didik, sebagian-sebagian, setelah anak didik disuruh untuk mengikutinya dan melakukan hal tersebut secara terus-menerus hingga ia hafal. Metode demonstrasi yang dimaksud adalah metode yang digunakan dalam pengajaran menulis, dimana seorang guru memberikan contoh cara menulis sebuah huruf, yang kemudian diikuti oleh para muridnya. Mengenai metode pembiasaan dan teladan, Ibnu Sina mengatakan bahwa pembiasaan adalah termasuk salah satu metode pengajaran yang sangat efektif, khususnya dalam pengajaran akhlak. Mengenai metode diskusi ini dapat digunakan dalam pengajaran ilmu yang bersifat rasional dan teoritis. Selanjutnya Metode mangang yang dimaksud adalah metode yang dapat digunakan dalam pengajaran ilmu kedokteran, dimana setelah para peserta didik diajarkan tentang berbagai teori di dalam kelas,maka para pesert didik tersebut juga dituntut untuk melakukan mangang,yaitu mempraktekan semua ilmu yang telah diketahui di rumah sakit maupu di balai kesehatan. Mengenai metode penugasan yang dimaksud adalah guru memberikan penyajian pembelajaran dengan memberikan tugas tertentu sehingga para peserta didika melakukan kegiatan belajar.

Dari beberapa metode tersebut jelaslah bahwa penggunaan metode sangat diperlukan dalam sebuah pembelajaran,terlebih metode yang digunakan haruslah cocok dengan materi yang diajarkan, sehingga para peserta didik menjadi lebih mudah dan menyenangkan dalam mengikuti proses pembelajaran tersebut.

Konsep Guru
Guru merupakan juru kunci kesukesan dalam sebuah pembelajaran, sehingga Ibnu Sina juga menaruh perhatiannya kepada kriteria yang harus dimilki oleh guru. Mengenai hal ini ia menjelaskan bahwa guru yang baik adalah guru yang berakal cerdas, beragama, mengetahui cara mendidik akhlak, cakap dalam mendidik anak, berpenampilan tenang, jauh dari berolok-olok dan main-main dihadapan murid-muridnya,tidak bermuka masam,sopan santun,bersih dan suci murni. Lebih lanjut ia menambahkan bahwa seorang guru sebaiknya dari kaum pria yang terhormat dan menonjol budi pekertinya,cerdas,teliti,sabar,telaten dalam membimbing anak, adil, hemat dalam penggunaan waktu, geamr bergaul dengan anak-anak,tidak sombong dan berpenampilan rapi. Selain itu guru juga harus mendahulukan kepentingan orang banyak dari pada kepentingan dirinya sendiri, menjauhi sifat-sifat raja dan orang-orang yang berakhlak tercela, mengetahui etika dalam majlis ilmu, sopan dan santun dalam berdebat, berdiskusi dan bergaul.

Penjelasan ini menerangkan bahwa Ibnu Sina sangat menekankan bahwa guru merupakan sosok yang baik dan memiliki kepribadian yang baik pula .Disamping itu, guru juga dituntut untuk memiliki berbagai macam kemampuan mengajar yang seharusnya dimiliki oleh seorang guru, sebagaimana kemampuan tersebut yang telah dijelaskan diatas, hal ini juga mengindikasikan bahwa seorang guru seharusnya tidak hanya menjadi guru bagi para muridnya, tetapi juga menjadi guru bagi kehidupan orang lain sepanjang hidupnya.

Hukuman dalam Pendidikan
Ibnu Sina selain memberikan garis-garis besar tentang prinsip-prinsip pendidikan akhlak, sebagaimana yang telah dijelaskan diatas, ia juga mempunyai konsep tentang hukuman dalam pendidikan. Mengenai hal ini ia menyebutkan bahwa suatu kewajiban pertama bagi seorang guru adalah mendidikanka dengan sopan santun, membiasakannya dengan perbuatan yang terpuji, sebelum kebiasaan jelek mempengaruhinya.

Jika terpaksa harus mendidik dengan memberikan hukuman kepada peserta didik, sebaiknya diberi peringatan dan ancaman lebih dahulu, jangan menindak anak dengan kekerasan, tetapi dengan kehalusan hati,lalu diberi motivasi dan persuasi dan kadang-kadang dengan raut muka yang kusam, atau dengan cara yang lain agar ia kembali kepada perbuatan baik.

Wafatnya Ibnu Sina

Ibnu Sina sina terserang penyakit Colic, dan karena keinginannya yang kuat untuk sembuh, sehingga dikisahkan bahwa pada saat itu Ibnu Sina pernah minta obat sampai delapan kali dalam sehari. Namun sekalipun kondisinya yang memburuk karena penyakit yang ia derita, ia masih saja tetap aktif menhadiri sidang-sidang majelis ilmu di Ishfaha. Kemudian ketika al-Daulah bermaksdu akan pergi ke Hamadan, Ibnu Sina memaksakan ikut dalam rombongan tersebut. Ditengah perjalanan ia kembali diserang penyakit, dan dalam keadaan yang demikian itu ia berkata, segala tenaga pengatur kekuatan tubuhku sudah lumpuh sama sekali, dan segala pengobatan sudah tidak berguna lagi[Taysir Syaikh al-Arld, h. 21]. 

Karena hal tersebut ia pun kemudian mandi dan bertobat kepada Allah, menyedekahkan segala kekayaannya kepada kaum fakir, memaafkan setiap orang yang pernah menyakitinya, membebaskan para budaknya, membaca al-Quran sehingga khatam tiga hari sekali, sampi ia menghembuskan nafasnya yanag terakhir. Sehingga Ibnu Sina pun wafat pada hari Jum’at bulan Ramadhan apda tahun 428 H, bertepatan dengan tahun 1037 M, dan dimakamkan di Hamadan [Abd al-Salam kafany, Kitab al-Zahaby li al-Mahrajah al-Alay li al-Dzikr Ibn Sina, ( Mesir : t.p.,1952), h. 162. ]


Demikian biografi singkat Ibnu Sina yang saya kumpulkan dari berbagai sumber dan informasi. Saya berharap agar bermanfaat dan berguna bagi anda sekalian!. bila ada kekurangan, kesilapan, dan kesalahan mohon dimaklumi. salam saya .....

Daftar Pustaka
Hanafi, Ahmad, Pengantar Filsafat Islam, Jakarta: Bulan Bintang, Cet.VI,1996
Madkour, Ibrahim, Aliran dan Teori Filsafat Islam, Penj. Yudian Wahyudi Asmin, Jakarta: Penerbit Bumi Aksara, Cet. III, 2004
Nasution, Hasyimsyah, Filsafat Islam, Jakarta: Penerbit Gaya Media Pertama, 2002
Nasution, Harun, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya, Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia, 1985
Ya’kub, Hamzah, Filsafat Agama: Titik Temu Akal Dengan Wahyu, Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 1992

Sumber http://www.zulfanafdhilla.com/

Selain sebagai media informasi pendidikan, kami juga berbagi artikel terkait bisnis.

20 Jenis Jagung Berdasarkan Warna dan Asal Negaranya

20 Jenis Jagung Berdasarkan Warna dan Asal Negaranya  🍒🌸🍃💖🍃🌸🍒 🌽Jagung Kuning: Umum di seluruh dunia, terutama di Amerika...