Tampilkan postingan dengan label Nabi Palsu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nabi Palsu. Tampilkan semua postingan

20/02/2013

Nabi Palsu Al-Mukhtar bin Abi Ubaid Ats-Tsaqafi

Jangan lupa membaca artikel tentang bisnis di > Informasi bisnis terbaik.




Dia hidup di masa tabiin. Pada awalnya dia menampakkan kesyiahannya sehingga pengikutnya banyak yang berasal dari syiah. Hingga ia mengaku bahwa Jibril telah datang kepadanya.

Dia berhasil menguasai Kufah dan sekitarnya serta berhasil menghabisi mereka yang memerangi Husain bin Ali di Karbala.

Mush'ab bin az-Zubair telah berkali-kali memerangi dia. Sampai kemenangan diraih Mush'ab dan al-Mukhtar berhasil dibunuh.



Al Mukhtar bin Abi Ubaid Ats Tsaqafi (Thaif, 622-687 M/67 H), ia alah seorang syi'i (Syiah) menampakkan cintanya kepada Ahlul Bait serta menuntut darah Husein, yang berhasil mendominasi Kufah pada awal pemerintahan Ibnu Zubeir. Kemudian dia diperdaya syetan dan mengaku menjadi nabi (palsu) dan menyangka Jibril mendatanginya. Ya’qub bin Sufyan meriwayatkan dengan sanad hasan, dari Asy Sya’bi bahwa Al Ahnaf bin Qais pernah melihat Al Mukhtar dengan kitabnya yang menyebut dirinya sebagai nabi. Abu Daud meriwayatkan dalam As Sunan dari Ibrahim An Nakha’i, bahwa beliau bertanya kepada ‘Ubaidah bin Amru, “Apakah Al Mukhtar termasuk mereka (nabi-nabi palsu)?” ‘Ubaidah menjawab: “Dia termasuk pemimpinnya.” Al Mukhtar berhasil dibunuh sekitar tahun enam puluhan (hijriyah) oleh Mush’ab bin Az-Zubair di Harura. (Imam Ibnu Hajar, Fathul Bari, Kitab Al Manaqib Bab ‘Alamat an Nubuwah fil Islam, 6/617. Darul Fikr)

Dulu di Kufah terdapat kelompok Syiah, yang mengkultuskan Husain. Pemimpin mereka adalah Al-Mukhtar bin Ubaid Ats-Tsaqafi Al-Kadzab (Sang pendusta). Ada juga kelompok An-Nashibah (penentang), yang membenci Ali bin Abi Thalib dan keturunannya. Salah satu pemuka kelompok An-nashibah adalah Al-Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqafi. Dan terdapat hadis yang shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau bersabda,

سيكون في ثقيف كذاب ومبير
“Akan ada seorang pendusta dan seorang perusak dari bani Tsaqif.” (HR. Muslim)

Terdapat riwayat shahih dalam Shahih Muslim, dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam, beliau berkata, "Akan ada dari Tsaqif Kaddab dan Mubir". Yang dimaksud Al-Kaddab adalah Al-Mukhtar bin Abi Ubaid Ats-Tsaqafi. Dia menampakkan pembelaannya terhadap Ahlul Bait, membunuh Ubaidillah bin Ziad, gubernur Irak yang mempersiapkan pasukan untuk membunuh Husain bin Ali radhiallahu anhuma, diapun mengaku Nabi dan bahwa Malaikat Jibril turun kepadanya. Hingga mereka mengadu kepada Ibnu Umar dan Ibnu Abbas. Mereka berkata kepada salah satu dari keduanya, sesungguhnya yang paling menampakkan dusta adalah Mukhtar bin Abi Ubaid, dia mengaku bahwa malaikat turun kepadanya, maka beliau berkata, 'Benar' Allah berfirman,

 "Apakah akan aku beritakan kepadamu, kepada siapa syaitan- syaitan itu turun? Mereka turun kepada tiap-tiap pendusta lagi yang banyak dosa," (QS. Asy-Syu'ara: 221-222)

Lalu mereka berkata kepada yang lain, Sesungguhnya Mukhtar mengaku bahwa dia diberikan kepadanya. Dia berkata, 'Benar, (Allah berfirman), "Sesungguhnya syaitan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu." (QS. Al-An'am: 121) Kelompok ini merupakan kelompok rafidhah (syiah).

Si pendusta adalah Al-Mukhtar bin Ubaid – gembong Syiah – sedangkan si perusak adalah Al-Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqafi. Orang Syiah menampakkan kesedihan di hari Asyura, sementara orang Khawarij menampakkan kegembiraan. Bid’ah gembira berasal dari manusia pengekor kebatilan karena benci Husain radliallahu ‘anhu, sementara bid’ah gembira berasal dari pengekor kebatilan karena cinta Husain. Dan semuanya adalah bid’ah yang sesat. Tidak ada satupun ulama besar empat madzhab yang menganjurkan untuk mengikuti salah satunya. Demikian pula tidak ada dalil syar’i yang menganjurkan melakukan hal tersebut. (Minhaj as-Sunnah an-Nabawiyah, 4/555)

Imam An Nawawi rahimahullah (Wafat: 676H) menjelaskan: “Perkataan Asma’ mengenai si Pendusta, “kami telah mengenalinya”, yang beliau maksudkan dengannya adalah Al Mukhtar bin Abi ‘Ubaid Ats Tsaqafi, dia ini sangat teruk sifat pendustanya, dan antara tuduhannya yang paling buruk ialah Jibril Shallallahu ‘alaihi wa Sallam datang kepadanya. Para ulama sepakat bahwa yang dimaksudkan dengan si pendusta adalah Al Mukhtar bin Abi ‘Ubaid, manakala si pemusnah pula adalah Al Hajjaj bin Yusuf.” (Syarah Shahih Muslim, 16/100)

Mukhtar bin Abi Ubaid Ats Tsaqafi inilah yang menentang Daulah Umawiyah dan mengaku sebagai pengikut Ahlul Bait serta menuntut kematian Al Husain.Itu semua tidak lain hanyalah topeng dan kedok untuk bersembunyi dari kerakusannya terhadap kekuasaan.

Sikap Para Pengkhianat Syiah terhadap Al Hasan bin Ali Radhiyallahu anhu.Ketika Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu anhu terbunuh oleh Ibnu Muljam (seorang khowarij yang tadinya termasuk syiah Ali namun mengkafirkan beliau setelah itu), Al Hasan Radhiyallahu anhu dibaiat menjadi khalifah, dan beliau yakin tidak dapat berhasil perang melawan Muawiyah. Terutama setelah sebelumnya sebagian pengikutnya di Iraq telah meninggalkan ayahnya. 

Tetapi para para pengikut mereka di Iraq kembali meminta Al Hasan untuk memerangi Muawiyah dan penduduk Syam, padahal jelas-jelas sebenarnya Al Hasan berkeinginan menyatukan kaum muslimin saat itu, karena beliau faham sekali tentang kelakuan orang-orang syiah di Iraq ini yang beliau sendiri membuktikan hal tersebut, Ketika beliau menyetujui mereka (orang-orang syiah di Iraq) dan beliau mengirimkan pasukannya serta mengirim Qais bin Ubadah di bagian terdepan untuk memimpin dua belas ribu tentaranya, dan singgah di Maskan, ketika Al Hasan sedang berada di Al Mada’in tiba-tiba salah seorang penduduk Iraq berteriak bahwa Qais telah terbunuh. Mulailah terjadi kekacauan di dalam pasukan, para maka orang-orang syiah Iraq kembali para tabiat mereka yang asli (berkhianat), mereka tidak sabar dan mulai menyerang kemah Al Hasan serta merampas barang-barangnya, bahkan mereka sampai melepas karpet yang ada dibawahnya, mereka menikamnya dan melukainya. 

Dari sinilah salah seorang penduduk Syiah Iraq, Mukhtar bin Abi Ubaid Ats Tsaqafi merencanakan sesuatu yang jahat, yaitu mengikat Al Hasan bin Ali dan menyerahkan kepadanya, karena ketamakannya dalam harta dan kedudukan. Pamannya yang bernama Sa’ad bin Mas’ud Ats Tsaqafi telah datang, dia adalah salah seorang wali dari Mada’in dari kelompok Ali. Dia (Mukhtar bin Abi Ubaid) bertanya kepadanya, “Apakah engkau menginginkan harta dan kedudukan? Dia berkata, “Apakah itu?” Dia Menjawab,”Al Hasan kamu ikat lalu kamu serahkan kepada Muawiyah” Kemudian pamannya berkata “ Allah akan melaknatmu, berikan kepadaku anak putrinya Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam, ia memperhatikannya lalu mengatakan, kamu adalah sejelek-jelek manusia” [Tarikh Ath Thabari, 5/195. Al Alam Al Islami fi Ashri Al Umawi. Hal 101.]

Maka Al Hasan radhiyallahu anhu sendiri berkata “ Aku Memandang Muawiyah lebih baik terhadapku disbanding orang-orang yang mengaku mendukungku (Syiahku), mereka malah ingin membunuhku, mengambil hartaku, demi Allah saya dapat meminta dari Muawiyah untuk menjaga keluargaku dan melindungi keselamatan seluruh keluargaku, dan semua itu lebih baik daripada mereka membunuhku sehingga keluarga dan keturunanku menjadi punah. Demi Allah, jikalau aku berperang dengan Muawiyah niscaya mereka akan menyeret leherku dan menganjurkan untuk berdamai, demi Allah aku tetap mulia dengan melakukan perdamaian dengan Muawiyah dan itu lebih baik disbanding ia memerangiku dan aku menjadi tahanannya”

Maka para penghianat ini sebenarnya amat benci terhadap Al Hasan bahkan keturunannya, namun mereka berusaha menutup-nutupinya, maka mereka (syiah rafidhoh imamiyah) mengeluarkan keturunan Al Hasan dari silsilah para Imam ma’shum versi mereka yang mereka mengangkat Imam-Imam mereka itu bahkan diatas kedudukan para Nabi dan malaikat terdekat dengan Allah (tulisan Khumaini dalam, al hukumah islamiyah hal 52), walaupun demikian agar tidak terbongkar kebencian mereka ini mereka tetap mencantumkan Al Hasan dalam deretan Imam mereka. Itulah cara dan memang tabiat mereka untuk menipu kaum muslimin.

Mengapa mereka tidak mencantumkan keturunan Al Hasan dalam imam-imam mereka? Apa keturunan Al Hasan bukan keturunan ahlul bait? Jawabnya adalah karena Al Hasan berdamai dengan Muawiyah dan menyatukan kaum muslimin saat itu, sehingga tercelalah keturunannya dan tidak layaklah mereka menjadi imam mereka, itulah hakikat tabiat sejati seorang penghianat yang tidak pernah menginginkan perdaimaian dan persatuan diantara kaum muslimin.

Sumber:


http://www.fimadani.com/al-hajjaj-bin-yusuf-kezhaliman-dan-jasanya-bagi-islam/
http://www.ghoibruqyah.com/index.php/Bahasan/Para-Nabi-dan-Rasul-Palsu-Sepanjang-Sejarah.html
http://www.konsultasisyariah.com/memberi-kelapangan-untuk-keluarga-di-hari-asyura/

Sumber http://www.zulfanafdhilla.com/

Selain sebagai media informasi pendidikan, kami juga berbagi artikel terkait bisnis.

Nabi Palsu Thulaihah Al-Asadi

Jangan lupa membaca artikel tentang bisnis di > Informasi bisnis terbaik.


Namanya Thulaihah al-Asadi dari bani Asad, seorang ksatria yang gagah berani, sahabat Nabi SAW, yang keberaniannya dijadikan sebagai perumpamaan.

Dia masuk Islam pada tahun 9 H, kemudian murtad dan menganiaya dirinya sendiri. Dia mengaku sebagai seorang nabi di Nejed, kemudian berperang melawan pasukan Islam dan akhirnya kalah, terlantar, dan ditemukan oleh keluarga Al Ghassan di Syam. Setelah itu dia dirawat dan masuk Islam lagi.
Ia adalah orang yang dilaknat lalu dimuliakan. Dilaknat karna ia pernah mengaku sebagai Nabi, dan mulia karena ia syahid di medan perang.
Di zaman Jahiliyyah, dia terkenal sebagai seorang dukun terkemuka. Banyak didatangi dan dimintakan nasehat. Profesinya sebagai dukun, telah mengangkat figur dan ketokohan Thulaihah di tengah masyarakat pada saat itu. Maklum, saat itu masyarakat Jahiliyyah senang dengan ramalan-ramalan dukun dan tukang sihir. Sehingga posisi Thulaihah begitu kuat di mata masyarakat.

Ketika Islam diturunkan ke jazirah Arab, dan Rasul SAW mulai menjalankan dakwahnya, popularitas Thulaihah mengalami penurunan. Hal tersebut dikarenakan oleh ketegasan ajaran Islam yang melarang umatnya untuk konsultasi dan mengantungkan harapan nasib pada dukun. Konsultasi pada dukun merupakan bagian dari perilaku kemusyrikan, yang jika terbawa mati, maka dosa itu tdk akan diampuni.

Turunnya popularitas Thulaihah menimbulkan bara dendam di hatinya, karena kondisi tersebut menjadikan ia kembali menjadi rakyat biasa. Kedatangan dakwah Muhammad SAW telah mengakibatkan "bisnis perdukunannya" mengalami penurunan drastis. Singkat cerita, begitu mendengar Rasul SAW sakit, Thulaihah seperti mendapat angin segar. Ia menemukan peluang. Peluang untuk mengembalikan kejayaan dan ketokohannya, persis seperti pada zaman sebelum Rasul SAW.

Akhirnya, ketika Rasul SAW wafat, maka kesempatan tersebut ia manfaatkan dengan mendeklarasikan dirinya sebagai Nabi baru(palsu). Apa isu yang dibawa oleh Thulaihah sebagai Nabi baru pada saat itu? Ia pun memulai dengan ajaran baru tentang shalat. Thulaihah mengatakan bahwa dalam sholat, manusia tidak pantas untuk melakukan sujud. Kata Thulaihah, kepala dan wajah tdk diciptakan oleh Tuhan untuk dihinakan dengan mencium bumi lima kali sehari. Thulaihah pun menghapuskan kewajiban bayar zakat pada orang-orang kaya. Pernyataannya ini mendapat sambutan sebagian masyarakat. Yang mendukung Thulaihah antara lain orang-orang kaya yang lemah imannya dari suku al-asadi dan Ghathafan. Ajarannya lalu menyebar, kabilah-kabilah di sekitar Madinah pun banyak yang mulai terpengaruh oleh ajaran sesat Thulaihah.

Merasa mendapat dukungan yang cukup dari sbagian masyarakat, Thulaihah pun nekat berangkat ke Madinah untuk menemui Abu Bakar ra. Thulaihah meminta Abu Bakar untuk mengakuinya sebagai Nabi dan mengajaknya untuk hidup berdampingan secara damai. Thulaihah merasa bahwa ajarannya ini, meski berbeda dengan ajaran Rasul SAW, layak diberikan kesempatan untuk berkembang. Thulaihah sangat percaya diri dengan jumlah massa di belakangnya yang dianggap olehnya berjumlah cukup besar.

Setelah menemui Abu Bakar, dan menyampaikan pernyataannya sebagai Nabi sekaligus menghapus kewajiban zakat, Thulaihah pun kembali. Setelah Thulaihah pulang, malam itu juga Khalifah Abu Bakar mengundang sejumlah sahabat untuk bermusyawarah tentang langkah yang akan diambil. Pembicaraan Abu Bakar dengan para sahabat sangat serius. Ada yang mengusulkan supaya khalifah bersikap lunak sampai pasukan Usamah datang. Saat itu pasukan Usamah bin Zaid dikirim untuk memerangi pasukan Romawi. Namun Abu Bakar mengambil langkah tegas. Meski sudah tua, Abu Bakar memutuskan untuk memerangi Thulaihah. Syariat Islam tidak boleh dinodai. Komentar terkenal Abu Bakar yang terekam dalam sejarah adalah: “Demi Allah, aku akan perangi orang-orang yang memisahkan shalat & zakat”.

Akhirnya, malam itu juga Abu Bakar memutuskan untuk memberangkat pasukan yang langsung ia komandoi. Para sahabat lain meminta Abu Bakar tetap tinggal di Madinah, tapi ditolaknya. Ia bersikeras memimpin langsung pasukan tersebut. Pada saat itu, rombongan pasukan Thulaihah masih berada di perbatasan Madinah. Mereka terkejut ketika melihat pasukan Abu Bakar. Pasukan Thulaihah pun kocar- kacir mendapat serangan pasukan Abu Bakar. Bahkan sbagian mereka melarikan diri ke Bani Ghathafan. Namun demikian, Thulaihah berhasil melarikan diri ke Syria, di bawah perlindungan Ghassani.

Inilah kemenangan pertama pasukan Abu Bakar dlm sejarah, yang membuat sebagian kabilah yang ingin murtad, untuk mengurungkan niatnya. Abu Bakar pun memerintahkan Khalid bin Walid untuk menyisir dan melumpuhkan sisa-sisa kekuatan pasukan Thulaihah. Dengan kepiawaiannya, Khalid bin Walid akhirnya mampu melumpuhkan kantong-kantong kekuatan Thulaihah.

Yang menarik, meski Abu Bakar mengambil tindakan tegas, namun kelembutan tetap beliau tunjukkan thd para tawanan, pengikut Thulaihah. Kelembutan beliau membuat Uyainah bin Hishan, seorang tokoh utama suku Ghathafan, tangan kanan Thulaihah, sadar dan masuk Islam. Abu Bakar pun tak henti-hentinya menyerukan Thulaihah dan para pendukungnya yang tersisa untuk bertobat dan kembali pada Islam. Dengan penuh kelembutan dan kasih sayangnya, akhirnya Thulaihah pun sadar dan bertobat, di akhir masa pemerintahan Abu Bakar.

Kesadaran dan tobatnya Thulaihah ia tunjukkan dengan sejumlah langkah nyata. Antara lain, ia sempat melakukan ibadah haji dan umroh sebelum Abu Bakar wafat. Kemudian Thulaihah pun aktif berperang di zaman Umar bin Khattab menjadi khalifah. Ia menjadi prajurit Islam yang tangguh. Sejarah mencatat, kiprah Thulaihah berujung dengan syahidnya beliau di Perang Nahawand, di bawah pimpinan Sa'ad bin Abi Waqqash.

Sumber http://www.zulfanafdhilla.com/

Selain sebagai media informasi pendidikan, kami juga berbagi artikel terkait bisnis.

Nabi Palsu Sajjah Binti Harits

Jangan lupa membaca artikel tentang bisnis di > Informasi bisnis terbaik.

Sajjah binti al-Harits bin Suwaid bin Aqfan at-Tamimiyah (mati tahun 55 H/675 M) satu-satunya nabi palsu yang wanita, dari Bani Tamim. Salah seorang tokoh dukun dari bani Tamim yang mengaku sebagai "Nabi" pada zaman Abu Bakr As-Shidq, tokoh lainnya yang mengikuti Sajjah adalah Malik bin Nuwairah. Bersamaan dengan munculnya nabi palsu Sajjah, muncul pula Musailamah al-Kazzab dari Yamamah. Kalau pada awalnya antara Sajjah dan Musailamah memperebutkan posisi Nabi palsu bahkan berlawanan, akhirnya mereka bekerjasama bahkan kawin. Iya, Sajjah adalah istrinya Musailamah yang juga nabi palsu di zaman itu. Malik bin Nuwairah sebagai panglima pasukan Sajjah, menghadapi Khalid bin Walid di Wadi al-Battah, ditempat mana Malik bin Nuwairah dapat ditangkap dan akhirnya terbunuh.

Sedangkan pasukan Musaimalah al-Kazzab bertambah kuat dengan bergabungnya pasukan Sajjah (kolaborasi dua nabi palsu), mencapai jumlah 40.000 pasukan. Sedangkan pasukan Islam dipimpin oleh Ikrimah bin Abu Jahal (yang masuk Islam setelah Fathu Mekah), namun sayang pasukan Islam Ikrimah dapat dikalahkan oleh Musailamah al-Kazzab, sehingga Khalifah Abu Bakar di Madinah memerintahkan Khalid bin Walid untuk melanjutkan memimpin pasukan untuk menggempur Musailamah.

Khalid bin Walid mengerakkan pasukannya menuju Wadi al-Aqraba, ditempat ini terjadilah pertempuran yang sangat dahsyat antara kedua belah pihak, begitu dahsyatnya peretempuran ini sehingga kekuatan Islam mengalami tekanan. Menghadapi keadaan tersebut Khalid bin Walid melakukan tipu muslihat, seakan-akan pasukan Islam mundur, sehingga pasukan Musailamah maju untuk mengumpulkan harta rampasan. Pada saat pasukan Musailamah sibuk mengumpulkan harta rampasan, Khalid dan pasukannya dengan gerakan kilat, kembali menyerang pasukan Musailamah, sehingga dapat menghancurkann mereka dan sisanya melarikan diri kedalam kota benteng al-Hadiqat. Benteng ini memiliki dinding-dinding yang kukuh dan sukar ditembusi. Setelah beberapa waktu dikepung, akhirnya benteng al-Hadiqat dapat ditembusi, dan terjadilah perang yang sangat mengerikan didalam benteng ini, mereka yang tidak kembali kepada Islam dibunuh, sehingga benteng ”Hadiqaturrrahman” (Taman kenikmatan) berubah menjadi ”Hadiqatul maut” (Taman kematian), termasuk Nabi palsu Musailamah al-Kazzab tersebut. Diperkirakan dalam peperangan ini terbunuh 12.000 pasukan Musailamah dan 600 pasukan Islam, sebahagian besarnya sahabat penghafal Al-Qur’an, yang menyebabkan khawatirnya Umar terhadap keberlangsungan terpeliharanya Al-Qur’an melalui hafalan dan cacatan wahyu para Sahabat.

Sumber http://www.zulfanafdhilla.com/

Selain sebagai media informasi pendidikan, kami juga berbagi artikel terkait bisnis.

17/02/2013

Nabi Palsu Musailamah Al-Kadzab

Jangan lupa membaca artikel tentang bisnis di > Informasi bisnis terbaik.

Musailamah bin Habib (Arab:مسلمة بن حبيب) atau dikenal juga dengan nama Musailamah al-Kazzab (Musailamah si Pembohong) adalah seorang yang mengaku sebagai nabi pada zaman Nabi Muhammad melakukan dakwah di jazirah Arab.

Musailamah al-Kazzab lahir dengan nama Musailamah bin Habib dari Bani Hanifah, salah satu suku terbesar di jazirah Arab dengan wilayah domisili di Yamamah. Berdasarkan suatu temuan sejarah, ia telah membangun Yamamah sebelum hijrahnya Nabi Muhammad ke Madinah. Setelah tersebarnya Islam di jazirah Arab, kemudian Musailamah menyatakan diri sebagai seorangMuslim. Ia juga kemudian membangun Masjid di Yamamah.

Pada saat yang bersamaan Musailamah juga mempelajari sihir, dan menyatakan sebagai mukjizat. Musailamah melalui kemampuan sihirnya membuat orang-orang percaya bahwa ia juga seorang nabi. Musailamah juga menyatakan bahwa ia juga memperoleh wahyu dari Allah dan berbagi wahyu dengan Nabi Muhammad. Bahkan, ia menyebut dirinya sebagai Rahman, dan menyatakan dirinya memiliki sifat ketuhanan. Setelah itu, beberapa orang menerimanya sebagai nabi bersama dengan Nabi Muhammad.

Surat Musailamah Al Kadzab
“Dari Musalaimah Rasulullah, kepada Muhammad Rasulullah. Teriring salam untuk Anda. Selanjutnya, aku telah diangkat menjadi sekutu Anda. Separuh bumi ini adalah untuk kami dan separuh lagi untuk kaum Quraisy. Tetapi kaum Quraisy berbuat keterlaluan”.
Ibnul Qayyim rahimahullah menyatakan :

Dua utusan Musailamah Al Kadzab datang membawa surat Musailamah Al Kadzab kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka adalah Abdullah bin an-Nawahah dan ibnu Atsal.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada keduanya, “Bagaimana pendapat kalian tentang surat ini?”.

“Kami sependapat dengan Musailamah!” jawab dua utusan itu.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada keduanya: “Seandainya bukan karena utusan itu tidak dibunuh, maka tentulah aku akan memenggal leher kalian berdua!”

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membalas surat Musailamah sebagai berikut:
“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dari Muhammad Rasulullah, kepada Musailamah Al Kadzab (Pembohong). Keselamatan hanya bagi siapa yang mengikuti petunjuk yang benar. Selanjutnya, sesungguhnya bumi ini adalah milik Allah. Dialah yang berhak mewariskan kepada hamba-hamba-Nya yang Dia kehendaki. Kemenangan adalah bagi orang-orang yang bertaqwa.”
Perlahan-lahan pengaruh dan wewenang Musailamah meningkat terhadap orang-orang dari sukunya. Setelah itu Musailamah berusaha menghapuskan kewajiban untuk melaksanakan salat serta memberikan kebebasan untuk melakukan seks bebas dan konsumsi Alkohol. Ia juga kemudian menyatakan sebagai utusan Allah bersama dengan Nabi Muhammad, dan menyusun ayat-ayat, yang dinyatakan sebagai tandingan ayat Alquran. Sebagian besar ayat-ayat buatan Musailamah memuji keunggulan sukunya, Bani Hanifah, atas Bani Quraisy.

Setelah wafatnya Nabi Muhammad, Musailamah kemudian menyatakan perang kepada Khalifah Abu Bakar, namun pasukannya dikalahkan oleh Khalid bin Walid. Pada Pertempuran Yamamah, ia dibunuh oleh Wahsyi.

Jangan sampai menjadi Ar-Rajjal bin Unfuwah

Siapakah Ar-Rajjal bin Unfuwah? Ar-Rajjal bin Unfuwah pada awalnya adalah sahabat Nabi, dia mengetahui ilmu ad-Dien.

Ath-Thabari menyebutkan ceritanya dalam kitab “Tarikh”-nya, dia berkata, “As-Sarri menuliskan surat kepadaku dari Syu’aib, dari Sa’if, dari Thalhah bin A’lam, dari Ubaid bin Umair, dari Utsal Al-Hanafi –dia bersama Tsumamah bin Utsal-, dia berkata, Musailamah merayu dan merangkul setiap orang; dia tidak peduli dengan orang yang melihatnya berbuat jelek, dan bersamanya Ar-Rajjal bin Unfuwah. Dia (Ar-Rajjal bin Unfuwah) telah berhijrah kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, membaca Al-Quran dan memahami dien. Maka, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutusnya sebagai pengajar penduduk Yamamah, supaya mereka menentang Musailamah dan bersikap keras terhadap urusan umat Islam.”

Jadi pada awalnya, Ar-Rajjal bin Unfuwah mendapat tugas untuk mengajar penduduk Yamamah akan sesatnya Musailamah, menentang Musailamah dan menggagalkan usaha Musailamah untuk diakui menjadi nabi disamping Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Akan tetapi, di tengah jalan, Ar-Rajjal bin Unfuwah terpengaruh dan lalai dari tugasnya. Malah sebaliknya, dia menjadi pembela eksitensi Musailamah Al Kadzab sebagai nabi palsu.

Saef bin Umar meriwayatkan dari Thulaihah dari Ikrimah dari Abu Hurairah dia berkata, “Suatu hari aku duduk di sisi Rasulullah bersama sekelompok orang, di tengah kami hadir Ar-Rajjal bin Anfawah. Nabi bersabda,

“Sesungguhnya di antara kalian ada seseorang yang gigi gerahamnya di neraka lebih besar dari Gunung Uhud.”

Kemudian aku (Abu Hurairah) perhatikan bahwa seluruh yang dulu hadir telah wafat, dan yang tinggal hanya aku dan Ar-Rajjal. Aku sangat takut menjadi orang yang disebutkan oleh Nabi tersebut hingga akhirnya Ar-Rajjal keluar mengikuti Musailimah dan membenarkan kenabiannya. Sesungguhnya fitnah Ar-Rajjal lebih besar daripada fitnah yang ditimbulkan oleh Musailimah.” Hal ini diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq dari gurunya, dari Abu Hurairah ra.

(Lihat Ibnu Katsir, Al-Bidayah wan-Nihayah, dalam bahasan nabi palsu Musailimah Al-Kadzdzab)

Perkataan Abu Hurairah yang mengatakan bahwa fitnah Ar-Rajjal bin Unfuwah lebih besar dari Musailamah disebabkan akibat yang ditimbulkannya sangat besar, karena sejak Ar-Rajjal bin Unfuwah membela Musailamah Al Kadzab, pengikut nabi palsu ini semakin yakin kepada Musailamah dan semakin bertambah jumlahnya. Maka disinilah fitnah terbesarnya.

Kepada para ulama atau pun pejabat pemerintah, di luar peristiwa penyerangan kepada kelompok Ahmadiyah yang tetap harus dalam proses penyelidikan, tetaplah tidak mengubah status bahwa Ahmadiyah adalah sesat dan wajib dibubarkan, karena Ahmadiyah adalah pokok utama dari semua masalah ini, jangan sampai malah berbalik jadi pembela kelompok sesat ini.

Sumber
  • The Life of the Prophet Muhammad: Al-Sira Al-Nabawiyya By Ibn Kathir, Trevor Le Gassick, Muneer Fareed, pg. 67
  • a b The Life of the Prophet Muhammad: Al-Sira Al-Nabawiyya By Ibn Kathir, Trevor Le Gassick, Muneer Fareed, pg. 69
  • Ibn Kathīr, Ismāʻīl ibn ʻUmar (2000), al-Miṣbāḥ al-munīr fī tahdhīb tafsīr Ibn Kathīr, 1, Riyadh, Saʻudi Arabia: Darussalam, hlm. 68
  • The Life of the Prophet Muhammad: Al-Sira Al-Nabawiyya By Ibn Kathir, Trevor Le Gassick, Muneer Fareed, pg. 36
  • http://kilasanku.wordpress.com/2011/10/04/musailamah-al-kadzab-mengakui-kenabian-nabi-muhammad-shallallahu-alaihi-wa-sallam/

Sumber http://www.zulfanafdhilla.com/

Selain sebagai media informasi pendidikan, kami juga berbagi artikel terkait bisnis.

Nabi Palsu Aswad Al-Ansi

Jangan lupa membaca artikel tentang bisnis di > Informasi bisnis terbaik.

Ubaidullah bin Abdullah berkata; Aku bertanya kepada Ibnu Abbas tentang mimpi Rasulullah yg telah beliau sebutkan. Ibnu Abbas menjawab; Rasulullah menyebutkan kepadaku, beliau bersabda:

'Ketika aku sedang tidur, aku bermimpi bahwa di kedua tanganku ada dua buah gelang emas, hingga aku merasa cemas dgn keberadaan dua buah gelang itu. Kemudian aku diberi wahyu dalam tidurku itu agar aku meniup kedua gelang tersebut, lalu akupun meniupnya hingga kedua gelang itu hilang. Maka dari mimpi itu aku menafsirkan bahwa dua buah gelang tersebut adalah dua orang pembohong (nabi palsu) yg akan muncul sepeninggalku kelak. Ubaidullah berkata; yg satu adalah Al Ansi, yg dibunuh oleh Fairuz di Yaman, dan yang satunya adalah Musailamah Al Kadzab.

Nama sebenarnya ‘Ailat bin Ka’ab bin ‘Auff Al-‘Ansi. Ia keturunan Bangsa Habasyah yang tinggal di Jazirah Arab. Ia berkulit hitam, itu sebabnya ia dipanggil Aswad. Aswad mumpuni dalam dunia perdukunan serta mahir melakukan sihir.

Aswad mengaku nabi saat Rasulullah SAW menjelang jatuh sakit. Ia dikenal sebagai yang fasih lisannya. Ia mampu memutarbalikan kebatilan menjadi kebajikan. Banyak orang awam yang menjadi pengikutnya.

Ajaran Aswad berhasil tersebar di Yaman. Ia mengaku bahwa malaikat telah memberikan wahyu dan memberitakan hal-hal gaib kepadanya. Namun Aswad berhasil dibunuh oleh kaum Muslimin menjelang Rasulullah SAW wafat.

Sumber http://www.zulfanafdhilla.com/

Selain sebagai media informasi pendidikan, kami juga berbagi artikel terkait bisnis.

'Amr Bin Luhayyi, Tokoh Pertama Kali Membawa Berhala ke Makkah dan Merusak Ajaran Nabi Ibrahim

Jangan lupa membaca artikel tentang bisnis di > Informasi bisnis terbaik.


'Amr bin Luhay (Arab:عمرو بن لحي, 'Amru bin Luhayyi) adalah seseorang yang pertama kali membawa ajaran paganisme ke Mekkah. Ia juga sebagai pemimpin Bani Khuza’ah.

Di Jazirah Arab, mayoritas bangsa Arab sudah semenjak lama mengikuti dakwah Ismail, yaitu tatkala ia menyeru kepada agama bapaknya Ibrahim, yang intinya menyembah kepada Allah, mengesakan Nya dan memeluk agama Nya, yang dikenal Millah Ibrahim Hanifa (Agama Hanifiyah).

Setelah waktu bergulir sekian lama, hingga banyak di antara mereka yang melalaikan ajaran tauhid yang pernah disampaikan kepada mereka. Sekalipun begitu, masih ada sisa ajaran tauhid dan beberapa syiar dari agama Ibrahim, hingga muncul 'Amr bin Luhay, peminpin bani Khuza’ah. Dia tumbuh sebagai orang yang suka berbuat bijak, mengeluarkan shadaqah dan hormat terhadap urusan-urusan agama, sehingga semua orang mencintainya dan hampir-hampir mereka menganggapnya sebagai salah seorang ulama besar dan wali yang disegani.

Kemudian dia mengadakan perjalanan ke Syam. Disana dia melihat penduduk Syam yang menyembah berhala dan menganggap hal itu sebagai sesuatu yang baik serta benar. Sebab menurutnya, Syam adalah tempat lahirnya para nabi, rasul dan turunnya kitab-kitab suci. Maka dia pulang sambil membawa berhala Hubal (Dewa Bulan) dan meletakannya di dalam Ka’bah. Setelah itu dia mengajak penduduk Mekkah untuk menyembah Hubal tersebut. Orang-orang Hijaz pun banyak yang mengikuti penduduk tanah suci.

Berhala mereka yang terdahulu adalah Manāt, yang ditempatkan di Musyallal di tepi Laut Merah di dekat Qudaid. Kemudian mereka membuat Latta di Tha’if dan ‘Uzzá di Wadi Nakhlah. Ketiga berhala itulah yang paling besar. Setelah itu kemusyrikan semakin merebak dan berhala-berhala yang lebih kecil bertebaran di setiap tempat di Hijaz.

Dikisahkan bahwa 'Amr bin Luhay mempunyai pembantu dari jenis jin. Jin ini memberitahukan kepadanya bahwa berhala-berhala kaum Nuh yaitu Wadd, Suwaa, Yaghuts, Ya’uq dan Nasr terpendam di Jiddah. Maka dia datang kesana dan mengangkatnya, lalu membawanya ke Tihamah. Setelah tiba musim haji, dia menyerahkan berhala-berhala itu kepada berbagai kabilah akhirnya berhala-berhala itu kembali ke tempat asalnya masing-masing, sehingga di setiap kabilah dan di setiap rumah hampir pasti ada berhalanya. Mereka juga memenuhi Ka'bah dengan berbagai macam berhala dan patung.

Tatkala Nabi Muhammad menaklukan Mekkah, disekitar Ka'bah ada tiga ratus enam puluh berhala. Ia menghancurkan berhala-berhala itu hingga runtuh semua, lalu memerintahkan agar berhala-berhala tersebut dikeluarkan dari masjid dan dibakar.

Ibnu Hisyam berkata bahwa salah seorang dari orang berilmu berkata kepadaku bahwa: 'Amr bin Luhay pergi dari Makkah ke Syam untuk satu keperluan. Ketika tiba di Ma'arib, daerah di Balqa'. Ketika itu, Ma'arib didiami Al Amaliq - anak keturunan Imlaq (ada yang mengatakan Amliq) bin Lawudz Sam bin Nuh. Di sana, Amr bin Luhai melihat mereka menyembah berhala. la berkata kepada mereka, "Berhala-berhala apa yang kalian sembah seperti yang aku lihat ini?" Mereka berkata kepada Amr bin Luhay, "Kami menyembah berhala-berhala ini guna meminta hujan kepadanya, kemudian ia memberi kami hujan. Kami meminta pertolongan kepadanya kemudian ia memberikan pertolongan kepada kami." Amr bin Luhai berkata kepada mereka, "Apakah kalian mau memberiku satu berhala untuk aku bawa ke jazirah Arab kemudian mereka menyembahnya?" Mereka memberi Amr bin Luhai satu berhala yang bernama Hubal. Amr bin Luhay tiba di Makkah dengan membawa berhala Hubal. Ia memasangnya, kemudian memerintahkan manusia menyembahnya dan mendewa-dewakannya.

Dalam beberapa hadits yang shahih yang ditulis oleh Imam Bukhari, Muhammad membuat ramalan bahwa 'Amr bin Luhay akan masuk neraka dan sembari menyeret usus-ususnya. Kisah ini diceritakan oleh Abdullah bin Abu Bakr bin Muhammad bin Amr bin Hazm berkata kepadaku dari ayahnya yang berkata bahwa aku beritahu Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, "Aku melihat Amr bin Luhay menyeret usus-ususnya di neraka. Aku bertanya kepadanya tentang manusia (yang hidup) antara aku dengannya, ia menjawab, Mereka telah binasa."

Sumber

Sumber http://www.zulfanafdhilla.com/

Selain sebagai media informasi pendidikan, kami juga berbagi artikel terkait bisnis.

20 Jenis Jagung Berdasarkan Warna dan Asal Negaranya

20 Jenis Jagung Berdasarkan Warna dan Asal Negaranya  🍒🌸🍃💖🍃🌸🍒 🌽Jagung Kuning: Umum di seluruh dunia, terutama di Amerika...